Tren Wisata Olahraga Hyrox Kian Diminati Komunitas Bugar

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Aktivitas bepergian kini tidak lagi sebatas mengunjungi tempat wisata atau menikmati kuliner. Olahraga kebugaran mulai menjadi alasan utama masyarakat untuk melakukan perjalanan ke berbagai kota maupun negara.

Fenomena ini terlihat dari melonjaknya popularitas ajang fitness racing bernama Hyrox. Perlombaan tersebut melahirkan tren baru yang dikenal dengan istilah Hyrox race-cation, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.

Ajang berseri ini menggabungkan kompetisi fisik sekaligus kesempatan mengeksplorasi destinasi baru. Sepanjang 2025, lebih dari 80 perlombaan Hyrox telah digelar secara global dengan gaungan lebih dari 550 ribu peserta dan 350 ribu penonton.

"Perjalanan untuk Hyrox adalah bagian dari perubahan cara orang berwisata. Kini banyak orang memilih destinasi berdasarkan minat, komunitas, dan tujuan pribadi mereka, bukan hanya untuk melihat-lihat tempat wisata," kata Tammy Ng, Vice President Brand and Marketing Hyatt Asia Pacific, dikutip dari South China Morning, Sabtu (12/9).

Tammy Ng menambahkan bahwa konsep wisata kebugaran kini bergeser. Wisatawan kini berfokus pada aktivitas fisik, performa olahraga, pemulihan tubuh, serta interaksi sosial.

Popularitas ajang ini juga meluas di Indonesia, terutama setelah gelaran acara di Jakarta pada 27-28 Juni lalu. Sederet figur publik seperti Luna Maya, Marianne Rumantir, Cinta Laura, Irfan Bachdim, hingga Jennifer Bachdim turut meramaikan kompetisi tersebut.

"Di situ ada gabungan lari dan latihan strength. I love both," ujar Jennifer Bachdim di sela Ionation 2026 yang digelar di NICE PIK 2 baru-baru ini, dikutip dari Wolipop.

Koki dan pengusaha restoran berbasis Bali, Andres Becerra, telah mengikuti ajang ini di Bangkok, Shanghai, Hong Kong, hingga Perth. Ia memanfaatkan kompetisi ini sebagai sarana berkumpul bersama teman sambil mengenal kota baru.

"Kami berlatih bersama, bepergian bersama, lalu menjelajahi kota-kota baru di sekitar lokasi perlombaan," ujarnya.

Hyrox pertama kali diluncurkan di Hamburg, Jerman, pada 2017 oleh Christian Toetzke dan Moritz Furste. Kompetisi ini menerapkan format yang seragam di seluruh dunia, sehingga peserta dapat membandingkan catatan waktu secara global.

Peserta diwajibkan menyelesaikan delapan kali lari sejauh 1 kilometer. Setiap putaran lari diselingi oleh satu stasiun latihan fungsional yang harus diselesaikan secara berurutan.

Rangkaian tantangan dimulai dari SkiErg sejauh 1.000 meter, dilanjutkan Sled Push sejauh 50 meter, dan Sled Pull sejauh 50 meter. Setelah itu, peserta menghadapi Burpee Broad Jumps sejauh 80 meter.

Tantangan berikutnya meliputi Rowing sejauh 1.000 meter, Farmer's Carry sejauh 200 meter, Sandbag Lunges sejauh 100 meter, serta ditutup dengan Wall Balls sebanyak 100 kali.

Kompetisi ini menyediakan beberapa kategori lomba, mulai dari Open untuk pemula, Pro untuk tingkat lanjutan, hingga kategori Doubles dan Relay untuk peserta beregu.

Gaya Hidup dan Pengalaman Berwisata

Pertumbuhan Hyrox membuat para peserta datang beberapa hari sebelum acara untuk mengambil race pack sekaligus berwisata. Praktik ini mirip dengan tren running tourism pada ajang marathon.

Dokter bedah ortopedi asal Singapura, Alan Cheung, tercatat sudah mengikuti sembilan kali perlombaan Hyrox, dengan enam di antaranya berlangsung di luar negeri seperti Seoul, Sydney, Melbourne, Hong Kong, Taipei, dan Bangkok.

"Saya suka bepergian dan suka olahraga. Hyrox memberi kesempatan untuk menggabungkan keduanya," kata Alan dikutip dari Channel News Asia.

Alan juga menggunakan ajang ini untuk berkumpul bersama kerabat yang tinggal di negara lain melalui kategori doubles.

"Lebih seru karena kami berbagi pengalaman yang sama. Kategori doubles juga lebih menyenangkan karena bisa saling membantu, berbagi tugas, dan saling menyemangati selama lomba," kata dia.

"Saya biasanya sekalian mengunjungi teman atau keluarga. Karena lombanya digelar di kota besar, selalu ada kesempatan untuk jalan-jalan setelahnya," kata dia.

Pengalaman serupa dirasakan Angus Tan, peserta asal Singapura yang terbang ke Jakarta untuk mengikuti ajang internasional pertamanya. Bagi Angus, konsep race-cation memberikan kepuasan tersendiri setelah berjuang di arena.

"Ada kepuasan tersendiri ketika liburan itu terasa seperti hasil yang kita dapatkan setelah berjuang. Datang ke lomba, memberikan kemampuan terbaik di arena, lalu menikmati sisa perjalanan sebagai hadiah untuk diri sendiri," kata dia.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed