Trump Bantah Laporan Amunisi AS Menipis dalam Konflik Iran

Smallest Font
Largest Font

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah keras laporan yang menyebut militer AS mengalami kekurangan amunisi dalam operasi militer terhadap Iran pada Jumat (4/9/2026). Trump menuding pihak-pihak dan media yang mempertanyakan pasokan senjata tersebut telah melakukan tindakan pengkhianatan.

Kecaman tersebut disampaikan Trump di tengah sorotan publik terhadap penggunaan sumber daya militer dan perpanjangan penempatan puluhan ribu tentara AS di kawasan Timur Tengah hingga 2027.

"Orang-orang dan media yang terus-menerus mengungkit fakta soal kita tidak memiliki amunisi (Dan mereka 100 persen keliru!), sebenarnya telah melakukan pengkhianatan," tuding Trump dalam unggahan di akun Truth Social miliknya, dilansir dari Anadolu Agency.

Trump menilai tuduhan tersebut dilontarkan oleh pihak-pihak yang lebih menginginkan kekalahan Amerika Serikat dalam operasi militer yang dinilainya sedang dimenangkan dengan mudah.

"Mereka melakukan hal itu karena lebih ingin melihat Amerika Serikat KALAH dalam perang, yang sebenarnya sedang kita MENANGKAN dengan mudah, daripada melihat saya MENANG," ucap Presiden AS itu.

Trump menegaskan bahwa pemerintahannya memiliki persediaan amunisi kelas menengah hingga tinggi dalam jumlah yang tidak terbatas untuk menghadapi berbagai situasi darurat.

"Bagi para pengkhianat busuk yang menolak untuk melaporkan secara akurat mengenai operasi militer kita di Iran, kita memiliki persediaan amunisi kelas menengah hingga kelas tinggi dalam jumlah yang sebenarnya tak terbatas, jauh melampaui apa pun yang mungkin kita butuhkan untuk operasi ini, atau untuk perang lainnya (yang kemungkinannya sangat kecil!) yang mungkin saja terjadi," sebutnya.

Ia menambahkan bahwa kapasitas produksi amunisi AS saat ini meningkat drastis guna menimbun pasokan nasional sebelum mendistribusikannya kembali ke negara-negara sekutu.

"Selain itu, kita sedang memproduksi amunisi dalam jumlah yang belum pernah ada sebelumnya. Kita sedang menimbun dan bersiap menghadapi segala kemungkinan situasi darurat," tegas Trump dalam pernyataannya.

Trump menekankan bahwa prioritas utama pengelolaan persenjataan saat ini adalah untuk kebutuhan dalam negeri Amerika Serikat.

"Kita mengamankan persediaan ini untuk kita sendiri, Amerika Serikat, alih-alih menjualnya kepada pihak lain, meskipun penjualan kepada negara-negara sekutu akan segera dimulai kembali," imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Trump turut mengkritik kebijakan pemerintahan mantan Presiden Joe Biden yang dinilainya memberikan terlalu banyak amunisi secara cuma-cuma kepada Ukraina dan NATO.

"Ratusan miliar dolar telah diberikan kepada Ukraina dan NATO, secara gratis, yang seharusnya ditanggung oleh Eropa," kritik Trump.

Di sisi lain, perpanjangan masa tugas militer AS hingga 2027 diumumkan oleh Pentagon, yang meralat klaim awal Menteri Pertahanan Pete Hegseth terkait operasi kilat di Teheran. Dilansir dari The Wall Street Journal, durasi tugas unit pertahanan udara Angkatan Darat AS melonjak dari sembilan bulan menjadi 12 bulan, sementara 50.000 personel dan 19 kapal perang Angkatan Laut AS masih disiagakan di kawasan Teluk.

Pakar pertahanan dari Center for Strategic and International Studies, Tom Karako, memperingatkan bahwa tempo operasional yang berlarut-larut berisiko memicu kelelahan prajurit serta menunda pemeliharaan alat tempur. Sementara itu, dilansir dari CNN, pemerintah AS mulai menggeser taktik militer menuju tindakan isolasi dan tekanan ekonomi bertahap guna menghentikan program nuklir Iran.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed