Utang Nasional AS Membengkak Tembus Rekor 40 Triliun Dolar AS
Utang nasional bruto Amerika Serikat resmi melonjak melampaui angka 40 triliun dolar AS atau sekitar Rp707.154 triliun pada perdagangan Selasa (18/8/2026). Data resmi Departemen Keuangan AS yang dirilis Rabu (19/8/2026) mengonfirmasi total beban pinjaman publik tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Angka penutupan sebesar 40,05 triliun dolar AS ini melampaui perkiraan Congressional Budget Office yang memproyeksikan pagu pinjaman mencapai 39,4 triliun dolar AS pada akhir tahun fiskal 2026. Pembengkakan terjadi akibat akumulasi belanja perang, pemotongan pajak, pengeluaran sosial, serta meroketnya beban bunga utang.
Tekanan fiskal tersebut memicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang ke level tertinggi sejak 2007 pada Selasa. Kondisi ini memaksa pemerintah melakukan pembiayaan kembali dengan tingkat suku bunga tertinggi sejak sebelum krisis keuangan 2008, sebelum akhirnya Departemen Keuangan AS mengambil tindakan stabilisasi pasar pada Rabu pagi.
Peneliti bidang anggaran dan pajak di Brookings Institution, Jessica Riedl, memberikan analisisnya terkait tren defisit anggaran pemerintah AS yang dinilai makin mengkhawatirkan para pelaku pasar.
"Sudah lama diketahui bahwa pemerintah Amerika Serikat berada pada jalur defisit yang cukup tidak berkelanjutan," ujar Jessica Riedl, peneliti bidang anggaran dan pajak di Brookings Institution.
Riedl menjelaskan bahwa peningkatan beban bunga dan populasi yang menua terus memperbesar defisit fiskal negara tersebut.
"Dalam beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat telah mencatat defisit sekitar USD 2 triliun, bahkan di masa damai dan makmur," tambahnya.
Ia menyoroti pergeseran persentase defisit terhadap Produk Domestik Bruto yang kini melampaui batas psikologis pasar.
"Hal itu membuat pasar menjadi lebih cemas," ungkap Riedl.
Meskipun analis menilai tidak ada rasio utang terhadap PDB yang secara otomatis memicu krisis, angka simbolis ini menjadi peringatan serius bagi pasar keuangan global.
"Namun secara psikologis, angka-angka ini merupakan penanda yang memperingatkan pasar keuangan untuk mencermati kembali peningkatan utang tersebut," ujar Riedl.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow