Venezuela dan AS Sepakati Perjanjian Energi 25 Tahun
Presiden Interim Venezuela Delcy Rodriguez mengumumkan kesepakatan energi bilateral selama 25 tahun dengan Amerika Serikat pada Sabtu (29/8/2026) untuk mengembangkan industri minyak negara tersebut. Perjanjian ini ditargetkan mampu mendongkrak produksi hingga 1,5 juta barel per hari.
Kesepakatan tersebut mencakup pengembangan 17 ladang minyak strategis serta delapan blok migas baru. Melalui skema ini, Venezuela diperkirakan berpotensi mengantongi pendapatan hingga 209 miliar dolar AS per tahun dengan memperhitungkan potensi fluktuasi harga pasar.
Skema finansial mengatur bahwa Venezuela menerima 19 dolar AS dari setiap barel minyak yang diproduksi dan dijual ke pasar Amerika Serikat. Pemerintah Venezuela menegaskan pemanfaatan modal dan teknologi asing ini bertujuan memulihkan industri strategis yang terdampak sanksi tanpa mengorbankan kepemilikan negara.
"Proyek bilateral 25 tahun ini mencakup pengembangan 17 ladang minyak strategis dengan target produksi lebih dari 1,5 juta barel per hari," kata Rodriguez di stasiun penyiaran negara VTV, dikutip Reuters, Sabtu (29/8).
Rodriguez menegaskan bahwa proyeksi angka tersebut difokuskan secara khusus pada kerja sama bilateral kedua negara.
"Angka itu hanya berkaitan dengan kesepakatan bilateral antara Venezuela dan Amerika Serikat," imbuhnya.
Ia juga menegaskan posisi kedaulatan negara atas penguasaan seluruh sumber daya alam yang dikelola.
"Kami tetap memegang kepemilikan dan kedaulatan atas sumber daya alam kami," kata Rodriguez.
Guna memulihkan sektor yang terpukul sanksi, ia menyebut pemanfaatan investasi asing menjadi langkah kunci pemulihan industri.
"Sembari memanfaatkan modal, teknologi, dan keahlian operasional untuk mendukung pemulihan industri strategis yang sangat terdampak sanksi," ujar dia lagi.
Langkah diplomatik ini diambil setelah pengumuman Presiden AS Donald Trump pada Jumat (28/8/2026) mengenai pengambilalihan kendali mayoritas atas 65 miliar barel cadangan minyak terbukti Venezuela melalui kemitraan swasta. Trump menyatakan langkah tersebut berhasil mengamankan pasokan energi tanpa beban biaya bagi pembayar pajak AS.
"Kami telah mengamankan kendali mayoritas AS atas lebih dari 65 MILIAR BAREL cadangan minyak terbukti di Venezuela, tanpa biaya bagi rakyat pembayar pajak Amerika." terang pemerintahan AS, mengutip The Guardian, Minggu (30/8/2026).
Pihak Gedung Putih menilai langkah investasi ini sebagai pencapaian strategis bagi kedua pihak.
"Ini adalah kemenangan besar bagi rakyat Amerika maupun rakyat Venezuela," tulis Marco Rubio di media sosial.
Sejumlah perusahaan energi asal AS seperti Chevron dijadwalkan merampungkan dan menandatangani perjanjian eksplorasi pekan depan. Namun, gelombang protes bermunculan dari puluhan kelompok pendukung pemerintah di Caracas serta tokoh oposisi yang mengkritik keterlibatan dominan AS di sektor energi Venezuela.
Laporan media The Wall Street Journal sempat menyebutkan rencana Pentagon mengambil 35 persen saham pasif di North American Blue Energy Partners melalui instrumen ekuitas Office of Strategic Capital (OSC). Namun, Departemen Pertahanan AS membantah laporan pengambilalihan saham perusahaan swasta tersebut.
"Office of Strategic Capital (OSC) tidak mengambil kepemilikan saham di perusahaan swasta. Berdasarkan kewenangan berdasarkan undang-undang yang dimilikinya, peran OSC secara ketat terbatas pada pemberian bantuan modal dalam bentuk pinjaman, jaminan pinjaman, atau bantuan teknis, termasuk penataan transaksi untuk mengembangkan dan membiayai investasi," kata juru bicara utama Pentagon Sean Parnell.
Sementara itu, tokoh oposisi yang enggan disebutkan namanya mengecam keras tindakan pemerintah AS atas penguasaan aset energi tersebut.
"Ini adalah perampasan tanah - perampasan tanah besar-besaran," ujar seorang tokoh oposisi terkenal yang enggan disebut namanya.
Ia mengkritik kebijakan Washington yang dinilai menyimpang dari pendekatan bantuan masa lalu.
"Ini memuakkan... Ini bukan Amerika Serikat yang kami harapkan. Bukan Amerika Serikat semasa Rencana Marshall. Ini Amerika Serikat yang serakah dan bagaikan mafia," katanya.
Saat ini Venezuela memegang cadangan minyak terbukti terbesar di dunia sebanyak 303 miliar barel, namun tingkat produksi harian baru mencapai 1,25 juta barel per hari akibat kendala investasi dan pemeliharaan infrastruktur.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow