Zulkifli Hasan Ungkap Alasan Indonesia Masih Impor Kedelai
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan penyebab Indonesia masih harus mengimpor kedelai dalam acara Peluncuran Buku Pangan Indonesia di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2026). Masalah utama dipicu oleh ketimpangan produktivitas bibit lokal dibanding rekayasa genetika luar negeri, seperti dilansir dari Detik Finance.
Kesenjangan hasil panen tercatat sangat signifikan. Satu hektar lahan di Indonesia rata-rata hanya menghasilkan 1 ton kedelai dari bibit lokal, sementara lahan di negara maju mampu menghasilkan hingga 10 ton per hektar.
Kondisi ketergantungan impor pangan nasional juga terjadi pada komoditas lain. Sepanjang tahun 2024, impor beras Indonesia tercatat mencapai 4,5 juta ton, sedangkan impor sapi mencapai 1 juta ekor per tahun dan kedelai menyentuh angka 4 juta ton.
Kalahnya persaingan teknologi pertanian menjadi titik balik merosotnya produksi dalam negeri, seperti disampaikan oleh Zulkifli Hasan.
"Kedelai itu kita pernah memang enggak impor. Saya dulu masih kecil menanam kedelai. Saya bisa tanam padi, saya bisa tanam kedelai, biasa tanam singkong," ujar Zulkifli Hasan.
Ia menegaskan bahwa ketertinggalan teknologi rekayasa genetika negara maju menjadi penyebab utama penurunan daya saing komoditas lokal.
"Kita mulai kalah setelah negara-negara maju mengembangkan apa namanya tuh rekayasa genetik. Jadi kalau kita tanam kedelai di sini, dengan bibit kita itu 1 hektar, 1 ton. Sementara dia, 1 hektar bisa sampai 10 ton jauh sekali," beber Zulkifli Hasan.
Pemaksaan penggunaan bibit lokal tanpa penyesuaian teknologi diprediksi berdampak langsung pada lonjakan harga jual di pasar domestik.
"Jadi kalau kita tanam kedelai kita itu, harga kita bisa 3-4 kali lipat. Itu yang enggak sanggup, enggak bisa beli itu. Enggak makan tempe kita kalau begitu," imbuhnya.
Pemerintah memilih strategi penanganan secara bertahap untuk mengejar target swasembada pangan, dimulai dari prioritas beras dan jagung sebelum meluas ke komoditas lain.
"Hampir semua makan kita ini impor kita ini. Tahun 2024 kita impor beras itu 4,5 juta. Tapi kita sudah biasa, ah sudah.
Kita kalau enggak ada beras ya impor saja. Begitu juga eh sapi, daging itu 1 juta 1 tahun, 1 juta ekor sapi. Kedelai itu, 4 juta kita impor," imbuhnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow