Ahli Keamanan Pangan Ungkap Cara Tepat Konsumsi Telur Retak
Keretakan pada cangkang telur sering kali membingungkan konsumen terkait keamanannya untuk dikonsumsi. Faktor utama yang menentukan keselamatan bahan pangan ini terletak pada waktu terjadinya kerusakan cangkang tersebut, seperti dilansir dari Detik Food. Direktur Alliance to Stop Foodborne Illness sekaligus pakar keamanan pangan, Vanessa Coffman, PhD, menjelaskan bahwa telur yang sudah retak sejak berada di rak toko sebaiknya tidak dibeli.
Kerusakan yang dibiarkan lama membuka celah bagi masuknya bakteri berbahaya ke bagian dalam. Kondisi berbeda berlaku apabila cangkang baru mengalami retakan saat proses transportasi atau penanganan di rumah. Bahan makanan ini masih aman digunakan, dengan syarat langsung dimasak hingga matang sempurna.
Konsumen juga dapat memecahkan telur tersebut ke dalam wadah bersih yang tertutup rapat. Penyimpanan di dalam lemari es memungkinkan bahan pangan ini bertahan dan wajib diolah dalam jangka waktu maksimal dua hari.
Pengecualian penting disampaikan oleh manajer proyek khusus dan keamanan pangan di The American Egg Board, Elisa Maloberti. Telur wajib segera dibuang ke tempat sampah apabila retakan menyebabkan cairan putih telur bocor keluar. Apabila tidak ada kebocoran cairan, selaput pelindung di bawah cangkang diperkirakan masih utuh. Hal tersebut membuat bagian dalam telur tetap terlindungi dari kontaminasi luar, selama proses pengolahan segera dilakukan.
Ahli gizi dari Farmington Valley Nutrition and Wellness, Amy Woodman, RD, mengungkapkan bahwa struktur cangkang memang sangat rapuh. Risiko kerusakan dapat terjadi kapan saja selama proses pengiriman maupun pemajangan di toko. Celah pada cangkang menjadi jalur utama masuknya bakteri Salmonella. Menurut Coffman, infeksi mikroba ini sangat membahayakan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, wanita hamil, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat infeksi Salmonella memicu sekitar 1,35 juta kasus penyakit setiap tahunnya di Amerika Serikat. Kejadian tersebut menyebabkan setidaknya 26.500 pasien harus menjalani perawatan di rumah sakit. Pemeriksaan kondisi fisik secara mandiri dapat mengandalkan indra penciuman.
Menurut Woodman, timbulnya aroma tidak sedap menjadi tanda utama bahwa kualitas bahan pangan tersebut telah rusak. Pengamatan visual juga dapat membuktikan tingkat kesegaran. Cairan putih telur yang bening serta warna kuning yang cerah menandakan kondisi baik, sedangkan warna keruh atau perubahan warna patut dicurigai.
Metode menguji keandalan telur dengan cara merendamnya di dalam air dinilai kurang akurat oleh Maloberti. Ketebalan cangkang beserta variasi suhu sekitar turut memengaruhi posisi tenggelam atau mengapungnya bahan pangan tersebut.
Mengenai telur rebus, Coffman menegaskan bahwa olahan yang retak saat proses pematangan tetap aman dikonsumsi. Syarat utamanya adalah suhu internal saat memasak wajib mencapai 71 derajat Celsius. Tingkat risiko lebih tinggi ditemukan pada sajian setengah matang karena suhu aman umumnya belum tercapai.
Penggunaan produk yang telah melewati proses pasteurisasi sangat disarankan untuk sajian tersebut. Penanganan limbah telur yang sudah lama retak atau bocor harus dilakukan secara benar. Sisa bahan yang rusak wajib dibuang ke tempat sampah biasa dan dilarang dibuang melalui saluran pembuangan dapur.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow