Amalia Adininggar Jelaskan Fungsi dan Makna Angka Desil dalam DTSEN
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, menguraikan arti dari angka desil yang kini sering digunakan dalam berbagai program pemerintah, terutama setelah Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) menjadi acuan utama.
Desil merupakan pengelompokan keluarga berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraan mereka. Dalam sistem DTSEN, keluarga diberi peringkat berdasarkan sejumlah karakteristik sosial ekonomi dan dibagi menjadi 10 kelompok, masing-masing memuat sekitar 10 persen keluarga.
Kelompok desil 1 menunjuk pada keluarga dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 menunjukkan keluarga dengan kesejahteraan relatif tertinggi. Contohnya, keluarga di desil 3 berarti masuk kelompok ketiga dari sepuluh kelompok pemeringkatan tersebut.
Amalia menekankan bahwa angka desil harus dipahami sebagai gambaran posisi relatif, bukan sebagai ukuran absolut kondisi ekonomi keluarga.
"Desil menunjukkan posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi. Karena itu, angka desil perlu dipahami sebagai gambaran posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan, bukan sebagai ukuran tunggal kondisi ekonomi suatu keluarga," ujar Amalia, dikutip dari Detik Finance.
Selain itu, desil bukan merupakan ukuran kemiskinan mutlak maupun pengukuran pendapatan atau kekayaan. Penentuan desil mempertimbangkan berbagai faktor, tidak hanya penghasilan keluarga.
Karakteristik yang diperhitungkan meliputi kondisi perumahan, sumber air minum, bahan bakar untuk memasak, kepemilikan aset, konsumsi listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan kondisi disabilitas.
Satu indikator saja tidak menentukan posisi desil keluarga. Kepemilikan kendaraan atau tingkat pendidikan, misalnya, tidak secara otomatis menempatkan keluarga di desil tertentu.
Dalam proses pemeringkatan, DTSEN menggunakan metode statistik Proxy Means Test (PMT) yang mengestimasi tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi secara bersamaan.
Dengan metode ini, perubahan satu indikator tidak serta-merta mengubah posisi desil keluarga.
Informasi desil dimanfaatkan oleh kementerian dan lembaga sebagai dasar dalam menentukan sasaran program sesuai tujuan dan ketentuan masing-masing. Namun, masuk dalam desil tertentu tidak otomatis menjamin hak atas bantuan.
Setiap program pemerintah memiliki kriteria dan ketentuan penerima yang berbeda, sehingga data desil harus digunakan sesuai konteks program terkait.
Posisi desil dapat berubah seiring perubahan kondisi sosial ekonomi keluarga dan perbandingan dengan keluarga lain, tetapi perubahan satu faktor tidak langsung menyebabkan perubahan desil karena pemeringkatan memakai banyak karakteristik sekaligus.
DTSEN juga terus diperbarui dengan sumber data administrasi, hasil sensus dan survei, pembaruan dari kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, pengecekan lapangan, serta masukan masyarakat melalui kanal yang disediakan.
Per 10 Juli 2026, versi terbaru DTSEN mencatat 290,13 juta individu dan 95,98 juta keluarga, dengan data yang terus diperbaharui agar mencerminkan kondisi sosial ekonomi terkini.
Masyarakat yang menemukan data tidak sesuai dapat mengajukan pembaruan melalui mekanisme usul dan sanggah di kanal seperti Cek Bansos, SIKS-NG operator desa/kelurahan, dan Cek DTSEN. Namun, pengajuan pembaruan tidak otomatis mengubah posisi desil.
"BPS bersama kementerian/lembaga dan pemerintah daerah terus melakukan pemutakhiran untuk menjaga kualitas DTSEN agar semakin mencerminkan kondisi masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam memastikan informasi diri dan keluarganya sesuai dengan kondisi sebenarnya juga menjadi bagian penting dari proses tersebut," pungkas Amalia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow