Anak Muda Jepang Makin Menolak Kehadiran Warga Asing

Smallest Font
Largest Font

Penolakan terhadap kehadiran penduduk asing di Jepang semakin menguat di kalangan generasi muda. Kondisi ini menempatkan pemerintah dalam dilema besar di tengah krisis populasi yang kian memburuk.

Hasil survei Institute of Social Science Tokyo University mencatat sebanyak 56,3 persen anak muda di Jepang menolak kehadiran warga asing pada 2026. Angka tersebut melonjak 20,7 poin dibandingkan data tahun 2024, seperti dilansir dari Detikcom.

Kelompok generasi muda ini membagikan sentimen serupa terkait kondisi negara mereka. Banyak di antara mereka merasa sudah tidak ada lagi harapan bagi masyarakat Jepang.

Profesor Shin Arita dari Institute of Social Science Tokyo University memberikan analisisnya mengenai tren penolakan yang terus meningkat ini.

"Penentangan mungkin meningkat karena semakin banyak paparan terhadap diskusi negatif tentang penerimaan warga negara asing, yang dipicu oleh kecemasan dan ketidakpuasan terhadap masyarakat," kata Profesor Shin Arita.

Riset rutin setiap dua tahun dengan melibatkan 3.800 responden ini menunjukkan kenaikan penolakan di berbagai kelompok umur. Penolakan dari kelompok kelahiran 1966-1976 naik 19,4 persen, sementara kelompok kelahiran 1987-1998 melonjak hingga 24,3 persen.

Responden yang semula tidak menentang keberadaan warga asing pada 2024 mulai beralih sikap. Perubahan ini didorong oleh persepsi bahwa tidak ada lagi masa depan yang cerah bagi masyarakat domestik.

Sikap tertutup ini berbenturan dengan kondisi demografi yang kian memprihatinkan. Data Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi mencatat populasi Jepang tersisa 123 juta jiwa per 1 Januari 2026.

Jumlah kelahiran warga negara Jepang sepanjang 2025 turun selama sepuluh tahun berturut-turut menjadi 670.476 jiwa. Angka penurunan populasi secara alami meluas hingga 923.008 jiwa dan terus membengkak selama 18 tahun terakhir.

Di sisi lain, jumlah penduduk asing justru memecahkan rekor tertinggi sejak pendataan 2013. Pascapandemi 2023, populasi warga asing melonjak 353.696 jiwa atau naik 9,62 persen menjadi 4.031.159 jiwa.

Pemerintah Jepang berupaya meredam kekhawatiran masyarakat dengan fokus pada perbaikan ekonomi dalam negeri. Langkah ini disampaikan oleh perwakilan pemerintah untuk menekan rasa cemas generasi muda.

"Dengan mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, meningkatkan pendapatan bagi generasi muda, dan memastikan lapangan kerja yang stabil, kami bertujuan untuk mengurangi kekhawatiran tentang masa depan... untuk menciptakan masyarakat di mana siapa pun yang ingin memiliki anak dapat melakukannya, dan membesarkan mereka dengan tenang," kata Wakil Kepala Sekretaris Kabinet Takaichi, Masanao Ozaki.

Meskipun penurunan populasi melambat lebih dari lima persen dibandingkan periode 2022 hingga 2024, tren jangka panjang masih memprihatinkan. Pemerintah mengakui keinginan warga untuk memiliki anak belum terpenuhi secara optimal.

Kondisi ini membuat kebijakan imigrasi berada di persimpangan jalan. Pemerintah harus memilih antara mengandalkan pemulihan angka kelahiran domestik yang masih lambat atau mengandalkan imigrasi asing yang memicu resistensi publik.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed