AS Kirim Kapal Induk Pengganti di Tengah Isu USS Abraham Lincoln

Smallest Font
Largest Font

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengerahkan kapal induk USS George HW Bush ke Laut Arab pada Minggu (16/8/2026) untuk mendukung keamanan di Timur Tengah. Langkah ini dilakukan untuk menggantikan USS Abraham Lincoln yang telah beroperasi lebih dari 240 hari dalam operasi militer terhadap Iran.

Pengiriman armada tambahan tersebut berlangsung setelah muncul klaim dari kantor berita Iran, Tasnim News Agency, mengenai bentrokan di atas USS Abraham Lincoln yang dilaporkan menewaskan tujuh personel. Pihak militer Amerika Serikat membantah tegas laporan tersebut dan memastikan seluruh armada tetap menjalankan tugas operasional secara tangguh.

CENTCOM menegaskan kabar perkelahian massal hingga lonjakan kasus bunuh diri di atas kapal induk tersebut merupakan informasi yang salah.

"Selama 48 jam terakhir, berbagai media telah melaporkan beberapa klaim palsu terkait penempatan USS Abraham Lincoln (CVN 72) ke Timur Tengah. Satu laporan menuduh tujuh pelaut tewas dalam perkelahian di atas kapal induk dan laporan lain baru-baru ini, menyebutkan adanya peningkatan niat bunuh diri. Laporan-laporan ini SALAH," tulis CENTCOM.

Pihak militer menekankan tingkat perpanjangan masa tugas para awak kapal masih tergolong sangat tinggi meski telah menjalankan misi yang panjang.

"USS Abraham Lincoln mempertahankan salah satu tingkat perpanjangan masa tugas awak kapal tertinggi (84,4%) di antara semua kapal induk di Angkatan Laut AS. Para pelaut dan marinir dari Gugus Tempur Kapal Induk Abraham Lincoln tetap tangguh dan gigih setelah lebih dari 260 hari di laut, 10.000 penerbangan pesawat, dan 1,5 juta pon amunisi yang digunakan," imbuh militer AS tersebut.

Mengenai insiden personel, CENTCOM mengonfirmasi keberhasilan penyelamatan seorang prajurit yang sempat terjatuh dari kapal.

"Tidak ada anggota militer di atas kapal induk yang meninggal, dan satu pelaut yang jatuh ke laut pada 3 Agustus dengan cepat dan aman telah diselamatkan. Pemberitaan yang salah tentang penempatan bersejarah Abraham Lincoln merugikan para prajurit kita dan orang-orang yang mereka cintai," imbuh CENTCOM.

Penugasan berkepanjangan di kawasan Laut Arab tersebut turut memicu kritik tajam dari Pemimpin Minoritas Senat AS Chuck Schumer terhadap kepemimpinan Pentagon.

"Ketika Pete Hegseth dinominasikan, semua orang tahu dia sama sekali tidak kompeten," kata Schumer dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, dilansir Anadolu Agency, Jumat (14/8/2026).

Schumer menilai masa tugas panjang yang menekan psikologis para prajurit berakar dari kebijakan pimpinan militer.

"Sekarang para pelaut pemberani kita membayar harganya dengan cara yang mengerikan dan tak terbayangkan. Pete Hegseth harus segera dipecat," imbuh senator dari Partai Demokrat itu.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepis kekhawatiran publik terkait beban mental serta keluhan keluarga prajurit yang bertugas di atas kapal induk tersebut.

"Tidak, mereka tidak khawatir," kata Trump saat ditanya oleh wartawan, dilansir AFP, Sabtu (15/8/2026).

Trump menolak pandangan bahwa masa pengerahan sembilan bulan di lautan sudah melampaui batas wajar operasional.

"Tidak, tidak, tidak, justru belum cukup lama," ujarnya.

Ia memastikan proses rotasi kapal induk di wilayah operasi Timur Tengah akan segera direalisasikan dalam waktu dekat.

"Kapal itu sedang bergerak sekarang, atau akan segera bergerak, dan akan digantikan oleh kapal lain yang sangat mirip," kata Trump, dikutip dari APNews, Sabtu (15/8/2026).

Trump juga menegaskan komitmen penyiapan kekuatan armada di kawasan strategis tersebut tidak akan surut.

"Saya tidak akan pernah meminta maaf. Saya melakukan hal yang benar," ujarnya.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan kesiapan armada laut untuk mempertahankan keberadaan mereka di kawasan secara berkelanjutan.

"Angkatan Laut Amerika Serikat dapat mempertahankan blokade semacam itu tanpa batas waktu karena kami akan melakukan rotasi kapal—seperti yang telah dan akan terus kami lakukan," ujar Hegseth kepada para wartawan pada Kamis (13/8/2026).

Komandan tertinggi militer AS di Timur Tengah Laksamana Brad Cooper mengapresiasi kinerja seluruh personel USS Abraham Lincoln yang menjalankan tugas di Laut Arab.

“Sejarah akan mencatat pengerahan ini sebagai salah satu operasi paling intens dan penting di era modern,” kata Cooper dalam pernyataan resmi, Sabtu (15/8/2026).

Ketegangan politik turut meluas hingga ke batas wilayah perairan strategis Selat Hormuz akibat klaim sepihak terkait penguasaan jalur tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi membalas keras retorika pihak Amerika Serikat.

"Selat Hormuz telah menjadi milik Iran, adalah milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran. Selat ini hanya akan ditutup dan dibuka di bawah komando Iran," tulis Gharibabadi melalui akun X pada Jumat (14/8/2026) malam.

Gharibabadi menekankan kedaulatan Iran atas jalur pelayaran tersebut tidak dapat digoyahkan oleh gertakan politik.

"Selat Hormuz tidak bisa direbut dengan cuitan, kapal induk, perintah sepihak, atau pidato kampanye," tegasnya.

Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi turut mengonfirmasi belum adanya dialog diplomatik langsung antara Teheran dan Washington.

"Tidak ada negosiasi yang berlangsung antara kami dan Amerika Serikat saat ini," kata Araghchi seperti dikutip media Iran, Shahrara News, Sabtu (15/8/2026).

Pengiriman USS George HW Bush kini resmi menggantikan USS Abraham Lincoln yang dijadwalkan segera berlayar kembali menuju markasnya di Amerika Serikat.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed