Sekutu AS Mulai Meragukan Jaminan Keamanan Washington di Asia

Smallest Font
Largest Font

Korea Selatan dan Qatar secara terbuka menyuarakan keraguan terhadap ketergantungan keamanan pada Amerika Serikat pada Senin, 7 September 2026. Langkah ini diambil menyusul perubahan kebijakan luar negeri Washington di Asia Barat dan konflik yang berkepanjangan dengan Iran.

Perubahan sikap politik Presiden AS Donald Trump di Asia Timur memicu ketidakpercayaan mendalam di Seoul. Washington dinilai lebih memilih menjalin hubungan dekat dengan Pyongyang daripada mempertahankan kemitraan militer dengan sekutu utamanya di kawasan tersebut.

Pemerintah AS menyatakan penentangan terhadap pelaksanaan latihan militer bersama Korea Selatan. Penegasan tersebut dibarengi upaya Washington untuk menampilkan citra bersahabat dengan Korea Utara.

"Hari-hari di mana Seoul hanya bisa bergantung pada AS telah berakhir," kata Kim Min-seok, Ketua Partai Demokrat yang berkuasa di Korea Selatan.

Ancaman regional yang terus berkembang memaksa pemerintah Korea Selatan untuk segera menyusun strategi pertahanan baru secara mandiri.

"Washington sekarang semakin menjadi mitra negosiasi yang tangguh daripada kakak laki-laki yang murah hati," ujar Kim Min-seok, Ketua Partai Demokrat yang berkuasa di Korea Selatan.

Ketergantungan penuh pada aliansi pertahanan dinilai tidak lagi realistis dalam menghadapi situasi geopolitik saat ini.

"Seoul harus memperkuat kemampuannya untuk menghadapi potensi ancaman dan tidak bisa lagi hanya mengandalkan AS untuk keamanannya," tutur Kim Min-seok, Ketua Partai Demokrat yang berkuasa di Korea Selatan.

Sementara itu, eskalasi militer selama enam bulan antara AS dan Iran memberikan dampak langsung terhadap infrastruktur energi di Teluk Persia. Qatar, yang menjadi markas pangkalan militer terbesar AS di Timur Tengah, menanggung akibat dari serangan balasan Teheran.

Kebuntuan militer masih berlangsung di mana Iran mengganggu jalur pelayaran Selat Hormuz, sedangkan AS menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Kondisi ini mendorong negara-negara Teluk untuk mengevaluasi kembali skema pertahanan kawasan.

"Mengandalkan semata-mata pada aliansi strategis dengan AS untuk keamanan negara-negara di sekitar Teluk Persia tidaklah cukup," kata Majed al-Ansari, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar dan penasihat Perdana Menteri.

Keterlibatan pihak luar dianggap perlu ditopang oleh kekuatan internal yang solid.

"Swasembada keamanan adalah satu-satunya jalan ke depan," kata Majed al-Ansari, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar dan penasihat Perdana Menteri.

Dalam forum Hili di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, perwakilan Qatar kembali menegaskan posisi diplomasi negaranya dalam menjaga stabilitas kawasan.

"Kemandirian keamanan adalah satu-satunya jalan ke depan. Memang benar kita membutuhkan mitra dan sekutu. Tetapi kita tidak bisa hanya mengandalkan mereka untuk menjamin keamanan kita," kata Majed al-Ansari, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar.

Selain menyuarakan penguatan otonomi pertahanan, Qatar menjalankan peran mediasi untuk meredakan ketegangan regional. Delegasi Qatar telah tiba di Teheran pada 6 September 2026 untuk melakukan pembicaraan diplomatik dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

"Delegasi Qatar tiba di Iran kemarin sebagai bagian dari upaya berkelanjutan Qatar untuk membantu meredakan ketegangan. Mereka melakukan diskusi positif dengan Bapak Araghchi," kata Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Pemerintah Iran menyatakan diplomasi sebagai proses yang berkelanjutan demi melindungi kepentingan nasionalnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed