AS Siapkan Sanksi Ekonomi Iran Merespons Pasokan Minyak
Pemerintah Amerika Serikat bersiap mengumumkan paket sanksi ekonomi terbaru terhadap Iran pada Senin (24/8/2026), yang memicu penurunan harga minyak mentah di pasar global akibat aksi ambil untung para investor.
Langkah isolasi ekonomi bertajuk Economic D-Day tersebut diambil Washington usai menilai opsi militer tak kunjung membawa Teheran ke meja perundingan. Kebijakan ini dibarengi aksi Uni Emirat Arab yang memblokir akses perdagangan dengan Iran, menyusul insiden tembakan dua rudal ke wilayahnya.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan menyampaikan pengumuman resmi mengenai pembatasan finansial tersebut pada pukul 14.00 waktu setempat.
Di sisi lain, pergerakan harga minyak Brent berjangka terkoreksi US$1,22 atau 1,29 persen ke level US$93,17 per barel, sementara jenis West Texas Intermediate turun US$1,20 atau 1,38 persen menjadi US$85,86 per barel. Penurunan ini terjadi setelah jalur perdagangan di Selat Hormuz sempat terganggu akibat pengetatan izin pelayaran oleh pihak Teheran.
Pemerintah Iran menegaskan tidak gentar menghadapi gertakan ekonomi terbaru dari Washington. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menilai perubahan strategi AS dari jalur militer ke sanksi finansial menunjukkan kegagalan pendekatan lama mereka.
"Fakta bahwa mereka (para pemimpin AS) telah beralih dari operasi militer ... untuk mengangkat kembali rencana-rencana lama yang sama menunjukkan bahwa mereka putus asa," kata Araqchi.
Araqchi juga menekankan bahwa diplomasi harus dilandasi rasa hormat jika AS ingin mengakhiri ketegangan yang membara selama hampir enam bulan terakhir.
"Kami tidak pernah takut. Semua tindakan mereka baik blokade maupun langkah-langkah militer lain yang telah mereka lakukan telah gagal, dan masalah baru mereka ini juga akan gagal," kata Araqchi.
Ancaman AS turut menyasar negara mitra Iran, termasuk mendesak China memangkas impor energi mengingat Beijing membeli lebih dari 80 persen minyak kelautan Iran berdasarkan data analitik Kpler. Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengaku telah menerima usulan kerja sama keamanan regional baru dari sejumlah negara tetangga.
Pakar komoditas Commonwealth Bank of Australia Vivek Dhar menilai keberhasilan isolasi AS akan sangat menentukan dinamika pasar energi ke depan.
"Namun jika langkah AS berhasil sesuai tujuan, kemampuan Iran untuk merespons melalui peningkatan kekerasan menjadi risiko yang semakin besar untuk dipertimbangkan pasar energi," kata Dhar.
Meskipun Presiden Iran Masoud Pezeshkian terus mendorong ruang diplomasi, pakar pasar modal menilai terdapat perbedaan pandangan internal di Teheran.
Analis IG Markets Tony Sycamore mencermati dinamika politik dalam negeri Iran dalam merespons tekanan internasional.
"Saya pikir pada akhir pekan ini kita akan memiliki gambaran yang baik mengenai pihak mana dalam kepemimpinan Iran yang lebih unggul," kata Sycamore.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow