IHSG Turun ke Level 6.497 Terdampak Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia melemah ke level 6.497 pada Jumat, 11 September 2026, akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia yang memicu sentimen negatif pasar.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG sempat turun hampir 2% ke posisi 6.400-an dan menutup sesi pertama dengan penurunan 1,49% di level 6.490,91. Nilai transaksi mencapai Rp8,48 triliun dengan volume perdagangan sebesar 20,18 miliar lembar saham, demikian dilaporkan dari data RTI Business dan BEI.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk menyebabkan harga minyak dunia mencapai level tertinggi dalam hampir empat bulan, dengan harga minyak Brent mendekati US$108 per barel dan minyak WTI di atas US$104 per barel, menurut riset BRI Danareksa Sekuritas.
"Dipicu eskalasi AS-Iran, serangan ke tanker minyak Iran, rudal ke Yordania, serangan Houthi ke fasilitas energi Arab Saudi," tulis riset BRI Danareksa Sekuritas.
Harga emas juga menurun hampir 2% ke level US$4.300 per ons akibat tekanan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, yang berpotensi naik 25 basis poin pekan depan berdasarkan data inflasi produsen AS (PPI).
"Pasar price-in ekspektasi Fed hawkish akibat tekanan inflasi dari lonjakan harga energi, sehingga saham dan emas tertekan bersamaan meski minyak justru melesat akibat risiko geopolitik," jelas BRI Danareksa Sekuritas.
Investor asing mencatatkan penjualan bersih saham sebesar Rp428,96 miliar pada sesi pertama, dengan saham PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bumi Resources Tbk menjadi yang paling banyak diperdagangkan dengan nilai Rp606,28 miliar dan Rp482,5 miliar. Seluruh sektor saham terpantau melemah, terutama sektor transportasi dan konsumer siklikal.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyatakan bahwa pelemahan IHSG mengikuti bursa regional Asia yang melemah akibat sikap risk off investor dipicu harga minyak yang tinggi.
"IHSG dan bursa regional Asia melemah dampak dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan melonjaknya harga minyak yang membebani sentimen," ujar Nico.
Nico menambahkan kekhawatiran pasar semakin meningkat karena konflik berkepanjangan yang berpotensi mengganggu pasokan energi global, serta rilis data inflasi AS yang menunjukkan kenaikan PPI Final Demand sebesar 0,4% month to month.
"Konflik yang meningkat antara AS dan Iran memicu kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi global," kata Nico.
Secara mingguan, IHSG turun 1,43 persen ke level 6.541,38 dengan kapitalisasi pasar turun 1,32 persen menjadi Rp11.446 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian juga turun hampir 15%, volume transaksi turun lebih dari 26%, dan frekuensi transaksi turun sekitar 7%, menurut laporan Bursa Efek Indonesia.
"Investor asing hari ini mencatatkan nilai jual bersih Rp690,19 miliar dan sepanjang tahun 2026 telah mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp71,415 triliun," ujar Sekretaris Perusahaan BEI Elsierra Putri Yosita.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow