Dokter Ingatkan Bahaya Obat Pelangsing Ilegal dan Diet Ekstrem
Praktik memangkas porsi makan secara drastis serta konsumsi produk pelangsing tanpa izin edar masih menjadi ancaman bagi masyarakat yang menginginkan berat badan turun secara cepat. Kerap kali, cara instant tersebut dipilih tanpa mempertimbangkan risiko kesehatan jangka panjang.
Kondisi obesitas memerlukan penanganan secara bertahap dan berkelanjutan karena tergolong sebagai penyakit kronis, dilansir dari Detik Health.
Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Brawijaya, dr Prinindita Artiara Dewi, B.MedSc, SpGK, menjelaskan bahwa memangkas asupan nutrisi secara drastis merupakan langkah yang keliru.
Pola makan yang sangat ketat, seperti hanya mengonsumsi makanan satu kali dalam sehari atau mengeliminasi karbohidrat sepenuhnya, tidak dianjurkan bagi tubuh.
"Misalnya satu kali makan sehari atau memilih-milih makanannya. Jadi tidak mau makan karbohidrat sama sekali, hanya makan protein saja misalnya contohnya seperti itu," ujar dr Prinindita dalam acara Health Corner.
Tubuh manusia membutuhkan pemenuhan zat gizi yang seimbang, mulai dari karbohidrat, protein, lemak, serat, hingga vitamin dan mineral. Penentuan pola diet ideal harus disesuaikan dengan kondisi fisik serta aktivitas harian setiap individu.
"Yang penting itu adalah kita makan cukup sesuai dengan kebutuhan kita. Makanya diperlukan personalize diet untuk setiap masing-masing individu," jelasnya.
Faktor Penyebab Obesitas Sangat Kompleks
Penanganan masalah berat badan perlu diawali dengan mengidentifikasi faktor pemicunya secara tepat. Asumsi bahwa obesitas semata-mata terjadi akibat kurangnya kedisiplinan diri perlu diluruskan.
Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr Riyanny Meisha Tarliman, menyampaikan bahwa pemicu kondisi ini melibatkan kombinasi faktor biologis, genetik, serta lingkungan.
"Sains menunjukkan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks, termasuk faktor biologis, genetik, lingkungan, dll., dan seringkali membutuhkan konsultasi dengan dokter. Kami menghadirkan www.NovoCare.id agar masyarakat memiliki akses ke informasi berbasis sains untuk memahami obesitas dengan lebih baik, sekaligus akses untuk terhubung dengan dokter yang dapat membantu penanganan obesitas secara tepat," kata dr Riyanny.
dr Prinindita menambahkan bahwa akumulasi kelebihan lemak tubuh terjadi secara perlahan. Selain pola hidup, gangguan hormonal seperti hipotiroidisme dan sindrom Cushing juga dapat memicu obesitas.
Pemeriksaan medis menyeluruh dibutuhkan untuk menilai komposisi tubuh serta potensi penyakit penyerta, tidak sekadar mengacu pada angka di timbangan.
Pilar Penanganan dan Kewaspadaan Produk Ilegal
Manajemen kesehatan untuk mengatasi obesitas mencakup perubahan gaya hidup, intervensi farmakologi jika diperlukan, hingga tindakan bedah bariatrik untuk kasus tertentu.
"Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai," jelas dr Riyanny.
Evaluasi medis dari tenaga kesehatan sangat disarankan apabila upaya penurunan berat badan secara mandiri tidak menunjukkan hasil.
Di sisi lain, peredaran obat penurun berat badan secara daring patut diwaspadai karena tidak semua produk mengantongi izin keamanan resmi. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof Dr dr Taruna Ikrar, M.Biomed, mengimbau masyarakat agar tidak tergiur promosi atau klaim berlebihan di media sosial.
Prof Taruna menegaskan pentingnya menjalankan prinsip Cek KLIK—Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa—sebelum membeli serta mengonsumsi produk kesehatan.
"Pastikan kata BPOM yang kedua tentu. Apa kata BPOM? Pastikan cek klik, kemasan, label, izin edar, dan kadaluarsa," ujar Prof Taruna.
Masyarakat juga diminta mewaspadai kode batang pada kemasan yang mengarah ke situs tak resmi, serta memastikan penggunaan obat keras tetap berdasarkan resep dokter.
dr Prinindita turut mengingatkan bahwa beberapa jenis obat yang telah ditarik dari peredaran resmi sejak 2010 masih berisiko ditemukan di pasaran secara ilegal.
Proses penurunan berat badan memerlukan komitmen jangka panjang serta konsistensi guna menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
"Memang diperlukan konsisten yang pertama itu sangat penting sekali, istikomah, dan juga komitmen," pungkas dr Prinindita.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow