Bencana Banjir Bandang Nepal Diduga Dipemicu Runtuhnya Gletser
Rekaman video yang memperlihatkan bencana banjir bandang di Nepal mendadak gempar dan menyita perhatian publik global. Meski mengejutkan, sejumlah peneliti internasional sebenarnya sudah memprediksi potensi kemunculan bencana tersebut.
Laporan awal sempat mengaitkan peristiwa ini dengan gempa bumi di perbatasan Nepal-Tibet yang memicu tanah longsor. Namun, US Geological Survey (USGS) mengklarifikasi bahwasanya runtuhnya gletser menjadi penyebab utama banjir besar tersebut, seperti dilansir dari Detikcom.
Fenomena ini lantas mengemukakan pertanyaan mengenai keterlibatan perubahan iklim global. Mengutip CNN Weather, para peneliti menilai keruntuhan gletser serta tanah longsor merupakan peristiwa kompleks, di mana pergeseran iklim kerap memegang peran penting.
Kawasan Himalaya di Nepal mengalami peningkatan suhu yang tergolong amat cepat. Kondisi pemanasan bumi yang terus terjadi membuat gundukan gletser berukuran raksasa mencair dan kehilangan kestabilannya.
Riset terbaru mengindikasikan bahwa laju pencairan es gletser di area Hindu Kush Himalaya telah melaju dua kali lipat sejak tahun 2000. Situasi tersebut mengancam keselamatan nyaris 2 juta jiwa penduduk di bagian hilir.
Profesor hidrologi Imperial College London, Wouter Buytaert, mengutarakan bahwa insiden di Nepal merupakan pola bencana yang dipicu oleh perubahan iklim. Walau begitu, investigasi mendalam masih terus berjalan.
"Pemanasan global menyebabkan gletser menyusut, sehingga meningkatkan kemungkinan gletser tersebut pecah," ujar Buytaert.
Sementara itu, ahli geologi University of Calgary, Daniel Shugar, menganggap masih terlalu dini untuk menghubungkan bencana ini secara langsung dengan perubahan iklim. Berdasarkan laporan BBC, Shugar termasuk pihak awal yang mengindikasikan bahaya penipisan es akibat pemanasan suhu bumi.
Pendapat lain disampaikan Simon Cook, ahli geosains Universitas Dundee. Timnya meyakini telah menemukan titik awal keruntuhan gletser, yakni di dekat puncak Langtang Lirung yang berjarak sekitar 15 km di sisi barat lokasi terdampak.
Gletser tersebut diperkirakan runtuh ke arah barat laut sebelum bergerak menuju barat mengikuti aliran sungai. Perubahan suhu turut memengaruhi ketahanan tanah beriklim dingin di sekitarnya.
"Permafrost turut menahan kestabilan lereng gunung, (tetapi) permafrost ini kini menghangat, mencair, dan mengalami degradasi, sehingga kemungkinan terjadinya tanah longsor akan meningkat," ungkapnya.
Di sisi lain, terdapat dugaan bahwa gletser telah runtuh beberapa jam atau beberapa hari sebelum bandang menerjang kawasan permukiman.
"Menurut saya, besarnya gelombang material (puing-puing reruntuhan) yang terbawa menunjukkan bahwa awalnya terjadi tanah longsor, kemudian air tertampung dan membendung sungai, hingga akhirnya bendungan itu jebol dan memicu banjir besar yang dahsyat," terang profesor ilmu kebumian Universitas Oxford, Mike Searle.
Guna memastikan kronologi detailnya, para peneliti bakal memeriksa citra satelit terkini. Langkah ini diambil untuk melacak titik longsor, pengosongan danau glasial, hingga penyumbatan aliran sungai.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow