Banjir Bandang Nepal Menerjang Wilayah Utara dan Menewaskan 1.056 Orang
Banjir bandang dan tanah longsor dahsyat menerjang wilayah utara Nepal setelah aliran air bercampur es, lumpur, dan batuan meluap dari perbatasan China pada Rabu, 26 Agustus 2026. Bencana yang dipicu runtuhnya sebagian gletser Himalaya ini telah menewaskan lebih dari 1.056 orang, sementara ribuan warga dan ratusan warga negara asing masih dinyatakan hilang.
Kepolisian Nepal mengonfirmasi lonjakan jumlah korban jiwa tersebut melalui laporan China Central Television (CCTV) pada Selasa. Bencana meluas sepanjang 168 kilometer ke arah hilir Sungai Bhote Koshi dan Sungai Trishuli, merusak 19 jembatan, menghancurkan 40 kilometer jalan raya, serta melumpuhkan lebih dari 10 persen kapasitas pembangkit listrik di Nepal.
Di Distrik Rasuwa dan Nuwakot, tim penyelamat militer Nepal yang dibantu ahli dari China dan India fokus menembus 11 proyek pembangkit listrik tenaga air. Sebanyak 933 pekerja diyakini terjebak di dalam terowongan yang tertutup endapan lumpur padat dan puing-puing material.
Operasi evakuasi terus diupayakan dengan menggunakan ledakan terkontrol, ekskavator, serta lampu sorot darurat untuk menembus terowongan yang tertimbun.
"Sejumlah besar puing telah mengendap dan itu memberi kami tantangan besar untuk membuka terowongan. Fokus utama kami adalah membuka terowongan," kata Juru Bicara Militer Nepal, Raja Ram Basnet.
Kondisi darurat infrastruktur dan medan bencana yang hancur total membuat penilaian kerusakan berjalan lambat di tingkat pemerintah pusat.
"Banjir ini adalah bencana alam yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat menghancurkan," ucap Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah.
Kementerian Luar Negeri Nepal mencatat sedikitnya 590 warga negara asing dari 39 negara hilang, sementara lebih dari 10.000 orang telah berhasil dievakuasi. Di sisi lain perbatasan, otoritas China melaporkan 16 korban tewas dan 546 orang hilang di Kabupaten Gyirong, Tibet, termasuk 261 warga asing.
Pemerintah China memastikan koordinasi darurat antarnegara terus berjalan untuk memantau warga negara yang belum terjangkau di area bencana.
"Hampir 100 warga negara China belum dapat dihubungi di pihak Nepal," ungkap Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.
Dampak gelombang banjir juga meluluhlantakkan wilayah pemukiman di sepanjang aliran sungai, seperti yang dialami warga Desa Tupche.
"Itu bukan air. Itu adalah semburan lumpur dalam jumlah sangat besar yang langsung mengarah ke kami," kata Keshav Prasad Baral, warga lokal yang kehilangan istrinya akibat terseret arus lumpur.
"Saya mencoba memegang tangan istri saya, tetapi dia hanyut terbawa lumpur," ucapnya.
Di tengah kehancuran kawasan Trishuli Bazaar, Distrik Nuwakot, sebuah bangunan beton berwarna hijau milik keluarga Prakash Pandey Pyakurel (45) bertahan berdiri meski diterjang banjir es dan lumpur selama hampir dua jam.
Pyakurel beserta keluarganya berhasil selamat setelah bertahan di lantai atas bangunan saat air bah menghancurkan lantai dasar rumah mereka.
"Kami sangat ketakutan. Kami bersiap diri, ini adalah akhir zaman. Saya memberi tahu semua orang bahwa kita harus mati bersama," kata Pyakurel saat menceritakan momen mencekam tersebut kepada The Telegraph.
Bangunan tersebut bertahan kokoh dan melindungi seluruh anggota keluarga hingga bantuan tiba.
"Kami mendapatkan kehidupan baru. Semua orang mengatakan bahwa ini adalah keajaiban. Kami masih tidak percaya bisa hidup. Setelah melihat video-videosnya, kami tidak percaya bagaimana kami masih bisa selamat," tuturnya.
Data hidrologi menunjukkan luapan banjir mulai merangsek masuk Nepal pukul 08.32 waktu setempat. Peringatan darurat massal lewat ponsel baru terkirim pada pukul 09.13 oleh tim ahli hidrologi pemerintah, Binod Parajuli, setelah empat stasiun pemantau sungai utama hancur diterjang air bah.
Analisis citra satelit Planet Labs mengonfirmasi bahwa pemicu utama bencana adalah runtuhnya bagian bawah gletser dari ketinggian 5.200 meter, yang jatuh sejauh 1.200 meter ke dasar lembah. Peneliti mencatat runtuhan massa es dan batu tersebut sempat membendung Sungai Lhende Khola sebelum akhirnya jebol dan melepaskan volume air bercampur material dalam jumlah masif.
"Berdasarkan apa yang dapat saya lihat pada … citra satelit dari Planet Labs, bagian bawah sebuah gletser runtuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter dan jatuh menghantam dasar lembah yang berada sekitar 1.200 meter di bawahnya," ujar geomorfolog dari University of Calgary, Daniel Shugar, seperti dilansir The Guardian.
Proses akumulasi material yang terbawa arus menambah daya hancur gelombang air saat meluncur ke area hilir.
"Ketika gletser sebesar itu runtuh, tercipta air dalam jumlah besar, lalu terjadi rangkaian peristiwa beruntun... di mana air dan sedimen bercampur, bertambah volumenya, dan memicu banjir," jelas glasiolog dari Monash University, Andrew Mackintosh.
Para ahli memperingatkan bahwa pemanasan global telah mencairkan permafrost yang berfungsi sebagai perekat struktur batuan gunung di Himalaya, sehingga meningkatkan risiko longsor gletser di masa depan.
"Akibat iklim yang menghangat, gletser menyusut, es berubah menjadi air, dan air itu pun terperangkap," kata glasiolog dari University of the Sunshine Coast, Adrian McCallum, merujuk pada potensi bahaya ribuan danau glasial di Nepal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow