BNPB Catat 2.610 Hotspot Karhutla Terdeteksi di Kalimantan Barat
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat sebanyak 2.610 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah Kalimantan Barat pada Rabu (26/8/2026). Peristiwa kebakaran hutan dan lahan ini memicu penurunan jarak pandang hingga di bawah satu kilometer.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan rincian data pemantauan tersebut secara daring.
"Hingga saat ini, kami menyampaikan di Kalimantan Barat bahwa hotspot yang ditemukan yang dilaporkan kepada kami ada 2.610 hotspot," kata Berton SP Panjaitan, Plt Kapusdatin BNPB.
Berton menambahkan, pemantauan udara mengindikasikan luas lahan yang terbakar di Kalimantan Barat telah melebihi 38.310 hektare.
"Sedangkan firespot atau titik api sebesar 64 titik. Indikasi kebakaran seluas 38.310 hektar lebih. Jarak pandang sekitar di bawah 1 km," jelas Berton SP Panjaitan, Plt Kapusdatin BNPB.
Kondisi karhutla juga meluas ke provinsi lain di Kalimantan. Kalimantan Tengah mencatat 2.110 titik panas dan 55 titik api dengan luas indikasi terbakar 7.634 hektare, sementara Kalimantan Selatan terdeteksi 817 titik panas serta 1.995 titik api dengan luasan terbakar mencapai 9.605 hektare.
Di Pulau Sumatra, titik panas terbanyak ditemukan di Sumatra Selatan sebanyak 1.438 titik, diikuti Riau dengan 225 titik panas dan indikasi lahan terbakar mencapai 16.439 hektare, serta Jambi sebanyak 134 titik panas.
Berton menjelaskan kendala utama pemadaman adalah karakter lahan gambut yang membutuhkan pasokan air sangat banyak di tengah menyusutnya sumber air.
"Di Kalimantan Tengah, kami menemukan adanya 2.110 titik hotspot, sedangkan untuk firespot atau titik api sebesar 55 titik. Indikasi lahan yang terbakar sebesar 7.634 hektare lebih. Jarak pandang normal di atas 10 km," paparnya Berton SP Panjaitan, Plt Kapusdatin BNPB.
Penanganan karhutla diperkuat melalui jalur udara. Satuan Tugas Udara menyiramkan 4,6 juta liter air via pengeboman air di enam provinsi prioritas. Sementara itu, Operasi Modifikasi Cuaca yang memicu hujan mulai menurunkan intensitas api di beberapa kabupaten di Kalimantan Barat dan Riau.
"Untuk Sumatera bagian selatan, Sumatera Selatan, hotspot yang ditemukan adalah sebesar 1.438 titik, untuk titik api atau firespot sebanyak 25 titik. Indikasi lahan yang terbakar sebesar 1.926 hektare lebih, jarak pandang ada di dengan 3 km," jelas Berton SP Panjaitan, Plt Kapusdatin BNPB.
Dukungan penanganan darurat dikirim langsung oleh pemerintah pusat ke daerah terdampak. TNI Angkatan Udara memobilisasi pesawat angkut Airbus A-4002M ke Kalimantan Selatan untuk mendistribusikan bantuan berupa 50 unit mesin pompa air, 30 set pompa air, 19 koli masker, dan 3 set bucket pump.
"Dukungan yang dibawa meliputi 50 unit mesin pompa air, 30 set pompa air, 19 koli masker, serta 2 koli bucket pump (3 assy)," kata Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, Komandan Lanud Sjamsudin Noor.
Perwira menengah TNI AU tersebut memastikan pergerakan armada udara difokuskan untuk menunjang efektivitas pemadaman darat.
"Seluruh dukungan yang tiba di optimalkan agar dapat segera digunakan untuk memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan Selatan," ucap Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, Komandan Lanud Sjamsudin Noor.
Komandan Lanud Sjamsudin Noor menambahkan bahwa gerak cepat dari udara dilakukan demi membantu petugas darat yang berjuang di lapangan.
"TNI AU bergerak cepat dari udara membawa dukungan untuk memperkuat perjuangan di darat," tambah Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, Komandan Lanud Sjamsudin Noor.
Di Kalimantan Barat, pengerahan pesawat Cassa A-2117 dari Skadron Udara 4 dimaksimalkan untuk menaburkan bahan semai garam pada awan potensial demi memicu hujan alami.
"Bagi Lanud Supadio, keterlibatan dalam penanganan Karhutla merupakan wujud nyata kehadiran TNI AU dalam membantu pemerintah dan masyarakat menjaga Kalimantan Barat dari ancaman kebakaran hutan dan lahan. Dengan mengoptimalkan kesiapan personel, fasilitas, serta koordinasi dengan berbagai pihak, Lanud Supadio terus mendukung setiap upaya yang dapat mempercepat penanganan Karhutla," ucap Marsma TNI Sidik Setiyono, Komandan Lanud Supadio.
Sidik menggarisbawahi komitmen institusinya dalam pengawalan bencana karhutla di wilayah Kalimantan Barat.
"Komitmen tersebut menjadi bagian dari pengabdian TNI AU untuk menjaga keselamatan masyarakat, lingkungan, dan kelestarian wilayah Kalimantan Barat," ujar Marsma TNI Sidik Setiyono, Komandan Lanud Supadio.
"Kami juga perlu sampaikan bahwa di Riau juga sejak pagi tadi sudah terjadi hujan di beberapa kabupaten. Ini juga karena memang kami sudah melakukan OMC atau operasi modifikasi cuaca," jelas Berton SP Panjaitan, Plt Kapusdatin BNPB.
"Di Jambi, kami menemukan 134 titik hotspot, sedangkan titik apinya atau firespot ada 11 titik dengan luas indikasi terbakar sebesar 954 hektare lebih, jarak pandang 1 km," paparnya Berton SP Panjaitan, Plt Kapusdatin BNPB.
"Kami juga sudah berkali-kali menyampaikan adanya kendala, yaitu bahwa ini adalah karakternya adalah gambut, sehingga memang sulit untuk diatasi. Gambut yang terbakar tentu membutuhkan air yang banyak, dan sumber air saat ini sangat sudah menyusut dan jauh dari beberapa titik-titik api," ungkap Berton SP Panjaitan, Plt Kapusdatin BNPB.
"Kemudian faktor cuaca dan iklim juga yang menyebabkan sulitnya mendapatkan titik-titik awan untuk kita melakukan operasi udara," sambung Berton SP Panjaitan, Plt Kapusdatin BNPB.
Secara historis dan akademis, eskalasi karhutla di Kalimantan dipengaruhi oleh kombinasi faktor struktural dan perubahan iklim global. Riset lingkungan mencatat degradasi lahan gambut bermula sejak eksploitasi hutan masif pada era Orde Baru melalui pembukaan konsesi kayu, sawit, dan Proyek Lahan Gambut Satu Juta Hektare. Selain itu, studi internasional pada jurnal Nature Communications mengungkapkan perubahan iklim antropogenik meningkatkan risiko tahun kebakaran hutan ekstrem secara global sebesar 88 hingga 152 persen.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow