BPS Sebut 54,6 Persen Rumah di DKI Jakarta Pakai Atap Asbes
Badan Pusat Statistik mencatat sebanyak 54,6 persen rumah di DKI Jakarta masih menggunakan bahan asbes sebagai penutup atap, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Penggunaan material tersebut dinilai menjadi salah satu indikator rumah tidak layak huni.
Proporsi tersebut menempatkan DKI Jakarta sebagai provinsi kedua tertinggi dalam penggunaan atap asbes di Indonesia. Posisi pertama ditempati oleh Kepulauan Bangka Belitung dengan tingkat penggunaan mencapai 56,7 persen, sementara provinsi lain berada di bawah 30 persen.
"Sekitar 55 persen dari rumah yang menggunakan atap di DKI Jakarta itu dari asbes," kata Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti dalam acara Rilis Publikasi Statistik Perumahan Tahun 2026, Kamis (13/8/2026).
Standar rumah layak huni mencakup empat komponen utama, yaitu ketahanan bangunan, kecukupan luas lantai per kapita, serta akses terhadap air minum dan sanitasi layak. Bahan atap yang memenuhi standar ketahanan meliputi beton, genteng, seng, atau kayu/sirap.
"Asbes itu masuk kepada yang tidak layak karena itu karena asbes tidak memenuhi syarat ketahanan bangunan. Karena memang secara SDGs (sustainable development goals) pun asbes itu tidak memenuhi syarat kesehatan," tutur Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala Badan Pusat Statistik.
Isu penggunaan material atap ini sebelumnya juga menjadi perhatian pemerintah pusat. Masalah kesehatan yang dapat ditimbulkan dari pemakaian bahan kimia berisiko menjadi alasan utama imbauan penghindaran material tersebut.
"Begitu banyak nanti penyakit paru-paru tanpa kita sadari. Orang-orang muda sudah kena kanker paru-paru padahal dia nggak ngerokok. Dari mana? dari karat, dari asbes, dari macam-macam, kimiawi," ujar Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia dalam acara Peresmian Revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Jumat (31/7/2026).
Penggunaan bahan tradisional seperti ijuk, rumbai, atau genteng dinilai lebih aman untuk kesehatan. Material genteng juga dianggap sebagai bagian dari karakteristik bangunan lokal yang sudah lama diterapkan masyarakat Indonesia.
"Aslinya bangsa Indonesia tidak memakai seng. Kalau perlu kita kembali pakai ijuk kembali, pakai rumbai, kalau tidak kita harus cari (alternatif). Rakyat kita dari dulu bisa bikin genteng kok, genteng bukan teknologi baru, rakyat kita dari dulu pakai genteng," ucap Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow