BRIN Ungkap Potensi Letusan Gunung Anak Krakatau Mirip Erupsi 1883

Smallest Font
Largest Font

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan hasil studi mengenai fase pertumbuhan Gunung Anak Krakatau (GAK) yang masih berpotensi meletus seperti erupsi besar Krakatau pada 1883, dilansir dari Detikcom, Senin (14/9/2026).

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dr Aditya Pratama, menjelaskan bahwa erupsi dahsyat di masa lalu memicu tsunami vulkanik setinggi lebih dari 30 meter dan merenggut lebih dari 30 ribu korban jiwa.

"Salah satu letusan terbesar dalam sejarah modern, yang kemudian men-trigger terjadinya vulkano tsunami, bahkan lebih dari 30 meter dengan korban jiwa lebih dari 30 ribu orang," paparnya dalam Webinar Geohazard BRIN yang ditayangkan secara daring, Senin (14/9/2026).

Letusan tersebut membentuk cekungan besar akibat runtuhnya puncak gunung berapi yang dikenal sebagai kaldera. Menurut Aditya, pola pembentukan kaldera di Krakatau berlangsung secara berulang, dengan dua letusan besar yang tercatat dalam sejarah pada kisaran abad ke-4 hingga ke-6 serta pada 1883.

"Jadi kalau kita melihat apa yang terjadi di tanggal 4, tanggal 5 September itu pertanyaan besarnya apakah memungkinkan terjadi letusan yang serupa di 1883 gitu ya? Itu kekhawatiran banyak orang," sampainya.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Science tersebut membagi siklus kaldera gunung api ke dalam tiga tahap utama, yaitu inkubasi, pematangan (maturation), dan fermentasi.

"Sehingga banyak di gunung api yang lain memang ditemukan pada fase menjelang caldera forming eruption, ditemukan dapur magma atau reservoir di kedalaman yang dangkal," paparnya.

Pengujian terhadap 16 sampel batuan dari periode Old Krakatau, Young Krakatau, dan GAK menunjukkan adanya perbedaan mineralogi pada GAK, khususnya keberadaan mineral olivine yang menjadi penyusun utama mantel atas Bumi.

"Nah ini mengindikasikan bahwa memang magma anak (GAK) itu relatif berbeda dengan young Krakatau dan old Krakatau," jelas Aditya.

Dapur magma GAK tercatat berada pada tekanan 185-665 MPa dengan kedalaman 7,4-26,6 km. Angka ini jauh berbeda dibanding Old Krakatau yang memiliki kedalaman 0,6-2,9 km dan Young Krakatau di kedalaman 1,1-3,4 km, yang menunjukkan GAK masih berada pada fase awal inkubasi.

"Memang masih sama seperti yang akan dialami oleh ayah-ibunya terjadi caldera forming eruption (letusan). Tapi, memang dari segi karakteristik kalau kita lihat sekarang masih relatif cukup jauh untuk menuju arah itu," tegas sosok yang mendalami bidang vulkanologi, geokimia, petologi, dan sifat magnetik batuan itu.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed