Direktur CIA Kunjungi Kuba di Tengah Krisis Energi Akibat Blokade
Kunjungan langka Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat John Ratcliffe ke Kuba pada Kamis pekan lalu menandai peningkatan kontak diplomatik yang luar biasa di tengah krisis energi nasional yang melanda negara pulau tersebut.
Kuba saat ini sedang menghadapi pemadaman listrik massal akibat blokade bahan bakar yang diterapkan oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dilansir dari AFP, kondisi ini diperparah setelah pasokan minyak dari satu-satunya kapal tanker asal Rusia yang berhasil masuk kini telah habis seluruhnya.
Menteri Energi Kuba Vicente de la O Levy memberikan penjelasan mengenai situasi kelangkaan bahan bakar yang sedang membelit negaranya melalui stasiun televisi pemerintah.
"Dan minyak itu kini telah habis. Dampak blokade memang sangat merugikan kami... karena kami masih belum menerima bahan bakar," kata Menteri Energi Vicente de la O Levy.
Pihak Havana terus berupaya menekan Washington agar segera menghentikan kebijakan pembatasan pasokan energi yang berdampak langsung pada masyarakat sipil tersebut.
"Kerusakan itu bisa dikurangi dengan cara yang jauh lebih sederhana dan cepat, yakni dengan mencabut atau melonggarkan blokade, karena diketahui situasi kemanusiaan ini dihitung dan diciptakan dengan dingin," kata Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel melalui unggahan di media sosial X.
Di sisi lain, Pemerintah Kuba memandang kehadiran pimpinan intelijen Amerika Serikat di Havana sebagai sebuah momentum krusial untuk memperbaiki komunikasi bilateral.
"Pertemuan dengan Ratcliffe berlangsung dalam konteks yang ditandai oleh kompleksitas hubungan bilateral, dengan tujuan berkontribusi terhadap dialog politik antara kedua negara," tulis pernyataan Pemerintah Kuba.
Otoritas Kuba memanfaatkan pertemuan tersebut untuk menegaskan posisi mereka yang tidak pernah mendukung tindakan yang mengancam stabilitas keamanan regional maupun global.
"Kuba tidak pernah mendukung aktivitas bermusuhan apa pun terhadap Amerika Serikat," imbuh pernyataan itu.
Sementara itu, Amerika Serikat menawarkan opsi bantuan kemanusiaan finansial namun menolak menyalurkannya secara langsung melalui mekanisme birokrasi pemerintahan komunitis Kuba.
"Rakyat Kuba harus tahu ada bantuan makanan dan obat-obatan senilai US$100 juta yang tersedia bagi mereka saat ini. Ini adalah kepentingan nasional kami untuk memiliki Kuba yang makmur, bukan negara gagal yang berjarak 90 mil dari pantai kami," kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam wawancara dengan NBC News.
Tekanan ekonomi terhadap Kuba semakin berlipat sejak Januari lalu setelah pasukan Amerika Serikat menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang berujung pada pemutusan jalur pasokan bahan bakar utama ke pulau tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow