Dolar AS Menguat Mayoritas Mata Uang Asia Melemah Lagi

Smallest Font
Largest Font

Mayoritas mata uang di kawasan Asia kembali mengalami penurunan nilai terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa pagi, 1 September 2026. Data Refinitiv mencatat tujuh dari sembilan mata uang utama Asia bergerak ke zona merah akibat kebangkitan penguatan greenback.

Kondisi perdagangan menunjukkan ringgit Malaysia mengalami depresi terdalam di Asia sebesar 0,30 persen ke tingkat MYR 4,034 per dolar AS. Sementara itu, won Korea Selatan melemah 0,24 persen ke KRW 1.370,39 per dolar AS, baht Thailand tergerus 0,12 persen, dan nilai tukar rupiah terkoreksi 0,06 persen menuju level Rp17.720 per dolar AS.

Penurunan ini membalikkan dinamika pergerakan sehari sebelumnya pada 31 Agustus 2026, ketika lima dari sembilan mata uang Asia sempat menguat meski rupiah tetap menjadi mata uang yang paling loyo dengan pelemahan 0,34 persen ke Rp17.745 per dolar AS. Sedangkan pada 27 Agustus 2026, tekanan awal juga dipicu oleh laporan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS bulan Juli yang bertahan di angka 3,7 persen secara tahunan.

Tekanan mata uang Asia terdorong oleh pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang terangkat 0,08 persen ke posisi 99,503. Penguatan dolar terjadi setelah pidato bernada hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh pada simposium Jackson Hole yang menegaskan perlunya tindakan lanjutan jika inflasi belum melandai secara pasti menuju target 2 persen.

Sinyal ketat dari bank sentral AS tersebut menggeser ekspektasi pasar keuangan global terhadap arah suku bunga acuan. Perhitungan instrumen Fed funds futures menunjukkan kenaikan probabilitas peningkatan suku bunga The Fed pada rapat September menjadi 64 persen, melonjak signifikan dari estimasi awal di kisaran 35 persen.

Analis strategi makro Rabobank memberikan penilaian terhadap langkah yang diambil kepemimpinan baru bank sentral AS tersebut.

"Pernyataan tertulis Warsh tampaknya dirancang untuk menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga, menggeser perdebatan September ke arah kubu hawkish, dan membangun kembali kredibilitasnya dalam melawan inflasi," ujar Elwin de Groot, Kepala Strategi Makro Rabobank.

Pasar finansial saat ini menunggu rilis resmi data tenaga kerja AS bulan Agustus yang diproyeksikan menambah 55.000 pekerjaan. Laporan tersebut menjadi tolok ukur krusial sebelum para pembuat kebijakan menggelar rapat penetapan suku bunga pada 15-16 September 2026.

Kondisi pasar tenaga kerja diprediksi membatasi atau memberi ruang bagi kebijakan penggetatan moneternya.

"Jika kita mendapatkan penurunan pekerjaan secara langsung, saya tidak melihat bagaimana The Fed dapat menaikkan suku bunga. Saya rasa mereka tidak pernah menaikkan suku bunga setelah ekonomi mengalami kehilangan pekerjaan dua kali berturut-turut," ujar Marc Chandler, Kepala Strategi Pasar Bannockburn Global Forex.

Respon pelaku pasar juga berfokus pada dinamika ekspektasi suku bunga pasca-pidato awal di simposium Jackson Hole.

"Jika The Fed tidak menindaklanjutinya lagi, saya tidak ingin terlalu dramatis dengan mengatakan kredibilitasnya terkikis, tetapi menurut saya cara yang lebih tepat adalah pasar akan melihat komentarnya ke depan dengan sangat hati-hati," ujar Eugene Epstein, Kepala Perdagangan dan Produk Terstruktur Moneycorp.

Selain itu, pergerakan inflasi AS turut melatarbelakangi penguatan dolar yang menahan apresiasi mata uang Asia.

"Pembacaan inflasi menjaga ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun tetap hidup, meski pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole akan menjadi ujian utama," ujar Ryan Wells, Ekonom Westpac.

Selain faktor suku bunga AS, sentimen pasar Asia ikut dipengaruhi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) dengan peluang pasar uang mencapai 87 persen, kenaikan imbal hasil obligasi global, serta pergerakan harga minyak dunia.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed