Rupiah Menguat Didukung Penguatan Yen dan Pelemahan Dolar AS

Smallest Font
Largest Font

Rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa (8/9/2026) seiring mayoritas mata uang Asia yang juga menguat akibat pelemahan dolar AS di pasar global, menurut data Refinitiv dan Bloomberg.

Mayoritas dari 10 mata uang Asia yang dipantau menguat, dengan yen Jepang menjadi yang paling signifikan naik 0,79% ke posisi JPY 153,16/US$. Rupiah menguat 0,14% ke Rp17.605/US$, sedangkan ringgit Malaysia menjadi satu-satunya yang melemah tipis 0,02% ke MYR 4,045/US$.

Indeks dolar AS (DXY) turun 0,41% dan bergerak di level terendah lebih dari dua pekan, didorong penguatan yen yang menjadi komponen penting DXY. Penguatan yen dipicu spekulasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) pada pertemuan kebijakan pertengahan September.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan rupiah akan terus menguat seiring menguatnya mata uang kawasan, terutama yen Jepang.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat tipis dipengaruhi oleh menguatnya mayoritas mata uang kawasan, terutama yen Jepang seiring melandainya indeks dollar," ujar Rully Nova.

Rully juga menyoroti kenaikan harga minyak Brent dan WTI yang dapat memperbesar defisit neraca perdagangan Indonesia akibat kenaikan impor.

Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menjelaskan bahwa pelaku pasar masih menanti rilis data tenaga kerja dan inflasi AS sebagai indikator penting bagi kebijakan suku bunga The Fed.

"Pelaku pasar terus mencermati rilis data ekonomi AS yang terbaru, terutama indikator tentang tenaga kerja dan inflasi untuk mengukur kepastian apakah bank sentral AS akan menahan suku bunga atau kembali mengambil sikap hawkish," kata Rahma Gafmi.

Data inflasi yang akan dirilis pekan ini menjadi penentu arah kebijakan The Fed dalam rapat FOMC 15-16 September. Sementara itu, laporan tenaga kerja AS yang lebih baik dari perkiraan pada Jumat lalu meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September, meski pasar masih menunggu data inflasi yang kuat.

Menurut analis OCBC, laporan tenaga kerja mendukung dolar AS secara terbatas dan belum cukup untuk mendorong penguatan berkelanjutan.

"Laporan tenaga kerja AS mendukung dolar AS secara terbatas, tetapi belum cukup untuk mendorong penguatan yang berkelanjutan," tulis analis OCBC.

Ketegangan geopolitik di Teluk, khususnya ancaman Iran terhadap aset AS, membuat harga minyak bertahan tinggi di atas US$97 per barel. Harga minyak yang tinggi berpotensi menambah tekanan inflasi global dan mempengaruhi kebijakan The Fed.

Di pasar domestik, imbal hasil Surat Utang Negara tenor 10 tahun turun tipis menjadi 7,11%, mencerminkan stabilitas pasar obligasi di tengah dinamika tersebut.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed