Dominasi Baterai LFP Bayangi Pasar Kendaraan Listrik Indonesia
Penjualan kendaraan listrik berbasis baterai Lithium Iron Phosphate atau LFP masih mendominasi pasar domestik di tengah langkah pemerintah menyiapkan skema subsidi baru berbasis nikel mulai Juni 2026 untuk mengarahkan pengembangan industri nasional.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan total penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) mencapai 56.204 unit pada 2024 dan melonjak menjadi 114.413 unit sepanjang 2025.
Meskipun pasar tumbuh pesat, teknologi dan bahan baku baterai LFP belum diproduksi di dalam negeri. Penjualan EV berbasis LFP mencapai 46.814 unit atau 83,3 persen dari total pasar pada 2024, sedangkan kendaraan berbasis Nickel-Manganese-Cobalt (NMC) hanya 9.390 unit atau 16,7 persen.
Pada 2025, pangsa pasar LFP sedikit menurun menjadi 88.344 unit atau 77,2 persen. Sementara itu, penjualan kendaraan berbasis NMC meningkat menjadi 26.069 unit atau 22,8 persen, dengan pertumbuhan 177,6 persen sepanjang tahun tersebut.
Melalui kebijakan teranyar, pemerintah mengalokasikan 200 ribu unit kuota motor dan mobil listrik untuk insentif berupa PPN-DTP sebesar 100 persen bagi mobil listrik berbasis nikel (NMC), PPN DTP 40 persen untuk mobil listrik non-nikel, serta subsidi motor listrik Rp5 juta per unit.
Langkah pembedaan insentif ini dinilai sebagai strategi selektif untuk memperkuat hilirisasi nikel menjadi bagian ekosistem kendaraan listrik domestik.
"Kalau dilihat sekarang pemerintah lebih selektif. Untuk pemberian insentif pada kendaraan berbasis nikel saya kira bagus, karena kita punya produksi nikel sehingga bisa mendorong hilirisasi menjadi bagian dari ekosistem kendaraan listrik nasional," kata Fahmi dalam keterangan resmi, Selasa (26/5/2026).
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut memperingatkan adanya risiko kehilangan potensi nilai tambah jika pasar kendaraan listrik terus dikuasai oleh teknologi LFP yang bahan bakunya diimpor.
"Yang paling penting justru bagaimana ini menjadi kesempatan bagi Indonesia menciptakan ekosistem industrialisasi kendaraan listrik dari hulu sampai hilir," ujarnya.
Fahmi Radhi menambahkan bahwa pemerintah juga harus memastikan pembangunan fasilitas produksi di Indonesia, peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta transfer teknologi dari investor asing demi kemandirian industri nasional.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow