Drone Asal Iran Serang Kantor PM Kurdistan Irak Masrour Barzani

Smallest Font
Largest Font

Kantor pribadi Perdana Menteri Pemerintah Regional Kurdistan (KRG) Masrour Barzani dan kediaman kepala badan intelijen Parastin di Distrik Pirmam, Provinsi Hawler, menjadi sasaran serangan dua drone peledak yang diluncurkan dari wilayah Iran pada Senin (17/8/2026) dini hari pukul 00.28 waktu setempat.

Layanan Penanggulangan Terorisme Kurdistan (CTS) mengonfirmasi bahwa dua drone jenis Hadid-110 bermuatan bahan peledak tersebut diarahkan langsung dari perbatasan Iran menuju kedua lokasi sasaran. Otoritas keamanan memastikan tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun korban luka dalam insiden tersebut.

Perdana Menteri KRG Masrour Barzani mengutuk keras aksi penyerangan militer melintasi batas negara tersebut melalui pernyataan resminya.

"Ini adalah langkah yang berbahaya dan ancaman langsung terhadap keamanan serta stabilitas Wilayah Kurdistan," kata Masrour Barzani, Perdana Menteri Pemerintah Regional Kurdistan.

Ia juga menegaskan posisi pemerintahannya terkait legitimasi aksi penyerangan udara yang menerjang wilayah otonom tersebut.

"Ini tidak sah dan tidak dapat diterima," ujar Masrour Barzani, Perdana Menteri Pemerintah Regional Kurdistan.

Serangan pada Senin ini menambah panjang deretan aksi penembakan proyektil ke wilayah utara Irak. Wilayah Kurdistan mencatat telah dihantam lebih dari 1.000 serangan drone dan rudal yang diluncurkan oleh Iran serta kelompok milisi sekutunya sejak Februari, yang telah menewaskan 32 orang dan melukai hampir 150 lainnya.

Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada Jumat dini hari antara pukul 02.17 hingga 02.25 waktu setempat, pasukan Koalisi Global pimpinan Amerika Serikat juga mencegat dan menjatuhkan tiga drone bermuatan bom di langit Erbil.

"Dua drone Hadid-110 menargetkan kantor pribadi Perdana Menteri Pemerintah Regional Kurdistan dan kediaman Direktorat Keamanan," kata Layanan Penanggulangan Terorisme Kurdistan, badan keamanan dan intelijen KRG.

Pihak KRG menegaskan tidak pernah mengizinkan wilayahnya digunakan untuk mengancam negara-negara tetangga. Di sisi lain, pemerintah pusat Irak di Baghdad terus berupaya melucuti senjata milisi atau menempatkan seluruh persenjataan kelompok bersenjata di bawah kendali resmi otoritas negara.

Kelompok milisi Kata'ib Sayyid al-Shuhada (KSS) membantah keterlibatan mereka dalam serangan ke Erbil. KSS mengklaim saat ini ada kesepakatan parsial untuk menghentikan operasional serangan.

"Itu tidak dilakukan oleh kelompok kami... saat ini ada kesepakatan parsial bahwa tidak ada operasi atau serangan yang boleh dilakukan, dan bahwa menanggapi serangan Arab Saudi juga harus ditunda," kata Kadhim al-Fartousi, juru bicara kelompok Kata'ib Sayyid al-Shuhada.

Erbil mendukung penuh rencana Baghdad untuk membawa seluruh senjata milisi ke bawah kendali negara guna menghentikan eskalasi konflik di kawasan tersebut.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed