Eks Anggota Kongres Sebut AS Bahas Opsi Nuklir Terhadap Iran
Mantan anggota Kongres Amerika Serikat Marjorie Taylor Greene mengklaim para pejabat Washington sedang membahas kemungkinan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran pada Minggu (16/8/2026). Pembahasan opsi ekstrem tersebut dikabarkan berlangsung di tengah konflik kawasan yang terus memanas.
Klaim tersebut disampaikan Greene melalui unggahan di platform media sosial X. Ia menuding pemerintah Amerika Serikat berencana menurunkan ambang batas penggunaan senjata atom dalam rapat-rapat strategi militer.
"Saya tidak berspekulasi, saya tahu. Dan ini sangat jahat," tulis Greene di platform media sosial X.
Meski mengutarakan tuduhan serius, Greene tidak menyertakan bukti pendukung maupun mengungkap identitas pejabat yang terlibat. Peringatan ini muncul ketika Presiden Donald Trump berulang kali mengklaim kemenangan militer serta memegang kendali atas Selat Hormuz.
Greene menilai eskalasi militer berisiko besar memicu bencana global, depresi ekonomi, hingga jatuhnya korban jiwa massal. Ia juga menuduh pemerintah AS mengabaikan analisis intelijen internal yang menunjukkan Iran belum mendekati tahap pembuatan bom nuklir.
"Amerika tidak kebal," ujar Greene, sembari mendesak publik untuk menghentikan apa yang ia sebut sebagai "kegilaan" tersebut.
Kritik keras Greene menandai keretakan hubungannya dengan gerakan MAGA dan Donald Trump. Hingga saat ini, pihak Gedung Putih belum memberikan respons resmi terkait tuduhan diskusi penggunaan senjata nuklir tersebut.
"Mereka sedang membahas penggunaan senjata nuklir terhadap Iran dalam rapat-rapat strategis," tulis Taylor Green, mantan sekutu utama gerakan MAGA, di platform X, hari Minggu.
Eskalasi konflik bersenjata ini bermula sejak akhir Februari ketika AS dan Israel melancarkan kampanye militer terhadap Iran. Teheran membalas serangan tersebut dengan menargetkan aset Amerika dan Israel di kawasan serta membatasi arus pelayaran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Amerika Serikat juga berencana mengubah orientasi strategi nuklirnya di wilayah Asia-Pacifik. Kantor berita Korea Utara, KCNA, melaporkan bahwa Pentagon sedang menyusun strategi nuklir ofensif baru yang berfokus pada penggunaan senjata nuklir taktis jarak pendek.
"Langkah-langkah AS untuk membangun hegemoni nuklir dan meraih dominasi kekuasaan absolut telah memasuki fase baru yang berbahaya," demikian bunyi editorial yang diterbitkan oleh kantor berita milik negara Korea Utara (KCNA).
Media pemerintah Pyongyang tersebut menuding Washington tengah memodernisasi armada atomnya secara masif. Langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan instabilitas keamanan regional, terutama di kawasan Semenanjung Korea.
"Ini menunjukkan bahwa strategi nuklir AS bergeser dari apa yang disebut strategi pencegahan menjadi strategi ofensif, siap menggunakan senjata nuklir dalam konflik nyata," lanjut artikel tersebut.
Pemerintah Korea Utara mengecam keras kerja sama Kelompok Konsultatif Nuklir antara AS, Korea Selatan, dan Jepang. Pyongyang menegaskan akan terus meningkatkan kemampuan pencegahan nuklir demi pertahanan diri.
"Sasaran pertama strategi nuklir baru bisa jadi Semenanjung Korea," demikian pernyataan artikel tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow