Presiden Iran Masoud Pezeshkian Tegaskan Perlawanan terhadap AS Berlanjut
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Iran akan terus melawan serangan Amerika Serikat hingga para agresor menyesal telah menyerang negaranya. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks perang yang telah berlangsung lebih dari enam bulan di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait sengketa kendali atas Selat Hormuz yang strategis. Iran memblokade Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi jalur utama bagi seperlima pasokan minyak dunia, memicu kenaikan harga minyak global melampaui US$ 100 per barel, kata Pezeshkian di sela KTT BRICS di India, Sabtu (12/9/2026), dilansir AFP.
Pezehsian menegaskan, "Kami tidak membutuhkan polisi kawasan," mengacu pada keberadaan Amerika Serikat di Timur Tengah, saat bertemu Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.
Dia menambahkan, "Integritas wilayah dan keamanan kawasan ini hanya dapat dijamin oleh para pemain utamanya dan negara-negara yang berada di dalamnya." Presiden Iran juga menyampaikan bahwa meskipun rakyatnya mengalami ketidakadilan, perdamaian tetap menjadi prioritas utama negaranya.
Dalam pertemuan terpisah dengan para pimpinan universitas di Iran, Pezeshkian menyatakan, "Saya tidak mendukung kelanjutan perang, namun kita harus memperkuat ketahanan negara dalam menghadapi perkembangan di masa mendatang." Dia mengingatkan bahwa penguatan ketahanan negara harus dilakukan tanpa memaksa Iran bernegosiasi dari posisi lemah dan meminta dukungan mahasiswa untuk mencari solusi sosial, bukan ikut aksi protes.
Pezehsian juga menolak tuduhan bahwa Iran adalah negara teroris, menyebutkan serangan AS dan Israel yang menewaskan warga sipil, termasuk 168 anak-anak di sebuah sekolah dasar di Minab pada 28 Februari 2026. "Apakah kami teroris yang membunuh 168 anak tak berdosa sekaligus? Apakah kami teroris yang mengebom dan menghancurkan universitas, ilmuwan, dan nyawa manusia?" ujarnya saat bertemu tokoh agama dan intelektual di New Delhi. Dia mengkritik sasaran serangan yang menghancurkan infrastruktur sipil dan menghambat pasokan kebutuhan pokok serta komunikasi warga Iran.
"Jika mereka manusia, mengapa mereka menghalangi akses masyarakat terhadap air, makanan, roti, dan komunikasi?" kata Pezeshkian.
Menurutnya, tekanan tersebut dimaksudkan untuk memaksa rakyat Iran tunduk, namun dia menegaskan, "Rakyat Iran tidak akan menyerah." Pezehsian menyatakan posisi Iran berakar pada keyakinan kemanusiaan dan ideologis serta komitmen untuk mendukung kaum tertindas di dunia. Selama konflik, Iran meluncurkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS dan target Israel di kawasan, sementara AS membalas dengan serangan udara dan blokade laut terhadap pelabuhan Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan kemajuan dalam perundingan dengan Oman soal pengoperasian jalur transit sementara di Selat Hormuz.
Namun, nota kesepahaman yang dicapai Washington dan Teheran pada Juni 2026 untuk mengakhiri operasi militer dan menjamin pelayaran komersial gagal dilaksanakan, memicu konfrontasi kembali pada Juli.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow