Ereveld Menteng Pulo Buka Akses Wisata Sejarah Perang Dunia II Gratis
Ereveld Menteng Pulo yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Selatan, berdiri sebagai pengingat peristiwa Perang Dunia II di Asia serta masa Revolusi Nasional Indonesia. Tempat bersejarah ini memuat riwayat kelam masa lalu, seperti dikutip dari Detik Travel.
Pendudukan Jepang di Hindia Belanda pada Januari 1942 memicu krisis pangan dan tekanan bagi masyarakat pribumi. Dari sekitar 300.000 warga Belanda dan Indo-Belanda yang bermukim saat itu, ribuan jiwa menjadi korban konflik militer maupun situasi perang.
Secara harfiah, ereveld berarti lahan penghormatan dalam bahasa Belanda. Yayasan Makam Kehormatan Belanda (OGS) mencatat ada sekitar 25.000 korban perang yang dimakamkan di tujuh ereveld di Indonesia, mencakup warga Belanda, Inggris, Amerika, Australia, hingga Indonesia.
Komposisi korban terdiri dari 75 persen warga sipil dan 25 persen personel militer. Mereka merupakan korban dari era Perang Dunia II, Revolusi Nasional Indonesia, hingga konflik Papua Barat.
Khusus di Ereveld Menteng Pulo yang diresmikan pada 8 Desember 1947, tersimpan sekitar 4.300 makam. Bentuk tanda makam dibuat berbeda berdasarkan jenis kelamin dan agama korban. Makam bertuliskan Onbekend menandakan identitas korban yang tidak dikenali.
Akses Publik dan Fasilitas Kompleks
Kompleks pemakaman ini awalnya hanya diperuntukkan bagi keluarga korban. Namun, pengelola membuka akses untuk masyarakat umum sejak sekitar 20 tahun lalu demi menjaga keberlanjutan ingatan sejarah bagi generasi penerus.
"Karena generasi yang pertama sudah meninggal, kasihan kalau nanti cerita-cerita korban perang hilang dan kita jadi tidak bisa belajar lagi," kata Eveline de Vink dari Netherlands War Graves Foundation in Indonesia.
Masyarakat dapat berkunjung setiap hari pukul 07.00–17.00 WIB tanpa dipungut biaya masuk. Selain area pemakaman, area ini memiliki Gereja Simultaan, bangunan pendopo berisi informasi daftar nama korban, serta kolumbarium yang menyimpan 75 guci abu.
Peringatan Sejarah Setiap 15 Agustus
Gereja Simultaan di dalam kompleks menjadi pusat penyelenggaraan peringatan berakhirnya Perang Dunia II di Asia setiap 15 Agustus. Momen ini berdekatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus.
"Acara-acara ini (peringatan 15 Agustus dan Hari Kemerdekaan Indonesia) sepenuhnya sejalan satu sama lain. Jadi, ingatlah masa lalu, tetapi rayakan hal-hal baik yang lahir dari masa lalu itu dan Anda bisa bangga sebagai sebuah bangsa," ujar Defence Attaché of the Kingdom of the Netherlands, Colonel Hans van Reenen.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow