ESDM Sebut Penggunaan Biodiesel B50 Aman bagi Filter Kendaraan

Smallest Font
Largest Font

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa penggunaan bahan bakar B50 tidak mempercepat masa penggantian suku cadang filter pada kendaraan. Pengujian jalan oleh pabrikan otomotif membuktikan campuran 50 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) tersebut aman bagi mesin, dilansir dari Detik Oto pada Rabu (9/9/2026).

Hasil evaluasi teknis menunjukkan filter solar kendaraan tetap dapat berfungsi dengan baik melebihi batas pemakaian normal 10.000 kilometer. Evaluasi komprehensif ini sekaligus mematahkan kekhawatiran publik terkait potensi penyumbatan komponen mesin akibat penggunaan B50.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, memaparkan temuan uji jalan tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR.

"Filternya yang seharusnya diganti di 10 ribu (km), sampai dengan 37 ribu km itu tidak diganti, dan ini pengujiannya sampai 50.000 (km)," kata Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM.

Pengujian lanjutan saat ini masih terus dilakukan atas permintaan Gabungan Industri Kendaraan Motor Indonesia (Gaikindo) dan sejumlah asosiasi terkait untuk melintasi jarak yang lebih jauh.

"Ini membuktikan bahwa memang bahan FAME-nya B50 itu bagus. Nah, dari sini kami secara waktu 50 ribu (km) itu cukup, tetapi karena Gaikindo dan beberapa asosiasi meminta lebih sehingga saat ini pengujian diteruskan oleh asosiasi sampai dengan 100.000 km dan ini sedang berlangsung," jelas Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM.

Peningkatan mutu bahan bakar B50 didorong oleh perbaikan spesifikasi teknis FAME, salah satunya melalui penekanan kadar air dari batas maksimal 320 ppm pada B40 menjadi 300 ppm pada B50. Pemerintah juga menekan batas kandungan monogliserida untuk meminimalkan risiko pengendapan pada filter kendaraan.

"Monogliserit kandungan yang ada di FAME itu maksimum yang tadinya 0,5% menjadi 0,47% massa," ujar Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM.

Selain menurunkan kadar monogliserida, ketahanan bahan bakar terhadap proses oksidasi turut ditingkatkan secara signifikan.

"Stabilan oksidasi, jadi ketahanan dari bahan bakar sendiri untuk tidak teroksidasi itu stabil. Dulunya 720 menit, sekarang menjadi lebih lama lagi. Jadi stabilitasnya meningkat menjadi 900 menit," jelas Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM.

Standar baru B50 juga memuat dua variabel pengujian ketat yang sebelumnya tidak tercantum dalam regulasi versi B40.

"Ada tambahan dua parameter yang baru yaitu temperatur distilasi dan cleanliness," pungkas Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM.

Di sisi lain, infrastruktur distribusi B50 telah menjangkau mayoritas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh penjuru Indonesia. Sebanyak 6.050 lokasi atau 94 persen SPBU dilaporkan telah aktif menyalurkan BBM tersebut, sementara 362 SPBU sisanya masih dalam tahap transisi.

"Respon dari masyarakat untuk B50 secara umum baik itu dari sisi kualitas maupun dari sisi kuantitas itu berjalan dengan baik," kata Mars Ega Legowo Putra, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga.

Pemantauan layanan konsumen terus berjalan secara berkala guna memastikan penyaluran di tingkat ritel tidak mengalami kendala teknis.

"Call center kami juga terus memonitor atas komplain-komplain yang terjadi dan alhamdulillah sampai dengan saat ini tidak ada komplain yang signifikan dari sisi pengguna B50 khususnya untuk di sektor retail," tambah Mars Ega Legowo Putra, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed