Akademisi Unesa Serukan Gerak Tubuh untuk Kurangi Risiko Penyakit Mematikan
Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Surabaya, Irmantara Subagio, mengingatkan bahwa minimnya aktivitas fisik meningkatkan risiko penyakit berbahaya yang dapat berkembang tanpa gejala jelas dan berpotensi menyebabkan kematian mendadak.
Menurut Irmantara, tubuh manusia secara biologis dirancang untuk bergerak sehingga kebiasaan kurang gerak menyebabkan gangguan sistem tubuh dan menurunkan kebugaran.
Pada anak dan remaja, aktivitas fisik membantu memperkuat tulang dan otot serta mendukung perkembangan sistem saraf dan kemampuan motorik. Kebiasaan ini menjadi fondasi gaya hidup sehat di masa depan.
Bagi kelompok usia muda dan produktif, gerak tubuh mempertahankan kapasitas otot, daya tahan jantung dan paru, serta membantu mengendalikan berat badan dan menurunkan risiko penyakit kronis.
Memasuki usia lanjut, aktivitas fisik tetap penting untuk menjaga kekuatan, mobilitas, keseimbangan, fungsi kognitif, dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Irmantara menegaskan bahwa gerak tidak harus dilakukan dengan olahraga berat atau waktu khusus, melainkan bisa disisipkan dalam rutinitas harian seperti berdiri atau berjalan setiap 45–60 menit duduk.
"Gerakan sederhana yang dilakukan secara konsisten tetap memberikan dampak bagi tubuh," ujar Irmantara, sekaligus menyarankan latihan penguatan otot dan latihan di pusat kebugaran sebagai pelengkap.
Di Sulawesi Tenggara, semangat aktivitas fisik meningkat terutama saat peringatan Hari Olahraga Nasional ke-43 yang mengusung tema "Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar".
Dr. Rita Irma dari Poltekkes Kemenkes Kendari menekankan pentingnya sinergi antara aktivitas fisik dan gizi olahraga, karena kebugaran adalah hasil ekosistem antara gerak dan asupan gizi tepat.
Ia menjelaskan bahwa aktivitas fisik tanpa dukungan gizi yang cukup dapat menyebabkan kelelahan kronis, katabolisme otot, dan penurunan sistem imun.
"Aktivitas fisik dan gizi olahraga adalah dua sisi dari satu mata uang kebugaran," ujar Dr. Rita, dengan menekankan pentingnya pengaturan waktu makan dan konsumsi nutrisi yang tepat sebelum dan sesudah olahraga.
Menurutnya, pangan lokal Sulawesi Tenggara seperti sagu, ikan segar, dan air kelapa merupakan sumber gizi alami yang mendukung kebugaran masyarakat tanpa harus bergantung pada suplemen mahal.
Dr. Rita juga mengajak institusi pendidikan, organisasi profesi, dan pemerintah untuk berkolaborasi dalam mewujudkan masyarakat yang aktif dan bugar melalui edukasi dan penyediaan fasilitas yang mendukung.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow