IHSG Anjlok Nyaris 5 Persen ke Level Terendah dalam Lima Tahun Terakhir

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok nyaris 5 persen pada perdagangan sesi I hari Rabu, 3 Juni 2026. Pelemahan signifikan ini membawa indeks sektoral ke zona merah dan menekan posisi pasar modal domestik secara keseluruhan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga akhir sesi pertama pukul 12.00 WIB, IHSG ambruk sebesar 4,94 persen atau berkurang 305,94 poin. Penurunan tajam tersebut melempar indeks keluar dari level psikologisnya hingga terdampar di posisi 5.889,48.

Kondisi pasar pada paruh pertama perdagangan hari ini menunjukkan dominasi aksi jual yang sangat masif di seluruh sektor saham. Sebanyak 714 saham bergerak melemah di zona merah, sementara hanya 35 saham yang mampu menguat dari tekanan pasar.

Posisinya yang menyentuh level 5.889,48 menjadi catatan kelam baru bagi pasar modal Indonesia. Angka tersebut merupakan rekor harga penutupan terendah IHSG dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, atau terendah sejak bulan Mei 2021.

Kejatuhan ini tercatat lebih dalam jika dibandingkan dengan gejolak perang tarif Amerika Serikat (AS) yang sempat menekan pasar pada April 2025 lalu. Posisi ini juga berada jauh di bawah rekor tertinggi sebelum masa pandemi Covid-19 yang sempat berada di level 6.693.

Jika ditarik dari performa historis, indeks sebenarnya sempat mencetak level tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) di posisi 9.134 pada 20 Januari 2026. Namun, koreksi tajam dalam beberapa waktu terakhir mengikis seluruh keuntungan tersebut secara drastis.

Dalam kurun waktu satu bulan terakhir hingga menjelang akhir Mei 2026, IHSG memang sudah menunjukkan tren performa yang negatif. Data statistik menunjukkan kinerja bulanan indeks telah minus sebesar 12,78 persen sebelum terjadinya lonjakan koreksi hari ini.

Rupiah Melemah ke Belasan Ribu per Dolar AS hingga IHSG Anjlok Parah | METRO TV

Nilai Transaksi dan Aliran Dana Asing

Meskipun indeks mengalami penurunan yang sangat dalam, volume perdagangan di pasar reguler terpantau sangat aktif. Nilai transaksi pada sesi pertama hari ini tercatat mencapai Rp14,71 triliun di pasar reguler, serta ditambah Rp289 miliar di pasar negosiasi.

Tekanan terhadap indeks utamanya dipicu oleh aksi jual bersih yang dilakukan oleh para penanam modal internasional. Investor asing membukukan catatan penjualan bersih atau net sell dengan nilai total mencapai Rp525,37 miliar pada paruh pertama perdagangan.

Aliran dana keluar dari investor asing sebagian besar berpusat pada saham-saham sektor perbankan berkapitalisasi besar. Di sisi lain, saham dari sektor emiten tambang justru menjadi instrumen yang masih banyak diakumulasi atau mengalami net buy oleh investor.

Penurunan tajam ini dipicu oleh kombinasi sentimen dari dalam dan luar negeri, termasuk adanya koreksi peringkat dari lembaga rating Moody's terhadap Danantara serta pergerakan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS.

Sebagai perbandingan historis untuk melihat ruang penurunan pasar, level terendah IHSG saat puncak pandemi Covid-19 berada di posisi 3.937 pada 24 Maret 2020. Dari titik nadir pandemi tersebut menuju rekor ATH 2026, indeks sebenarnya sempat mengalami kenaikan hingga 132 persen.

Rangkuman Data Perdagangan

Aktivitas pasar modal sepanjang paruh pertama hari ini mencerminkan kepanikan jangka pendek yang membuat mayoritas komoditas ekuitas mengalami koreksi masif secara bersamaan di papan perdagangan.

Berikut adalah perincian data transaksi dan pergerakan saham pada sesi I perdagangan hari ini:

  • Perubahan Indeks: Poin berkurang 305,94 (turun 4,94 persen)
  • Level Penutupan Sesi I: 5.889,48
  • Total Nilai Transaksi Reguler: Rp14,71 triliun
  • Total Nilai Transaksi Negosiasi: Rp289 miliar
  • Jumlah Saham Melemah: 714 saham
  • Jumlah Saham Menguat: 35 saham
  • Aksi Investor Asing: Penjualan bersih (net sell) Rp525,37 miIiar

Kondisi pergerakan nilai indeks secara historis dari masa ke masa dapat dilihat melalui tabel performa berikut ini:

Tabel Perbandingan Posisi Nilai IHSG Berdasarkan Periode Historis
Periode Waktu PeristiwaLevel Penutupan IndeksKeterangan Tren Performa
24 Maret 20203.937,00Level terendah saat puncak pandemi Covid-19
Mei 20215.889,00Batas terendah historis lima tahun lalu
Sebelum Pandemi6.693,00Rekor tertinggi sebelum periode Covid-19
20 Januari 20269.134,00Rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High)
3 Juni 2026 (Sesi I)5.889,48Posisi terendah baru dalam lima tahun terakhir
Informasi ini bukan saran investasi. Konsultasikan dengan penasihat keuangan.

Otoritas Bursa Efek Indonesia bersama pihak regulator terus memantau pergerakan frekuensi transaksi dan stabilitas sistem perdagangan guna mengantisipasi volatilitas yang berlebihan pada sesi kedua nanti.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed