IHSG Berpotensi Menguat Hari Ini Usai Ditutup Lemah 6.595

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami penguatan pada perdagangan Kamis (3/9/2026) setelah ditutup melemah tipis 0,06 persen ke level 6.595,78 pada Rabu (2/9/2026). Pergerakan indeks terpengaruh oleh aksi jual asing dan dinamika pasar komoditas global.

Pelemahan indeks pada hari sebelumnya mencerminkan fase konsolidasi setelah mengalami penguatan. Laju indeks ditopang oleh transaksi saham-saham perbankan besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dengan total nilai transaksi pasar mencapai Rp16,82 triliun.

Secara teknikal, pergerakan indeks memperlihatkan potensi pergerakan terbatas setelah mendekati batas atas pergerakan. Area batas bawah pergerakan indeks berada di kisaran 6.500 hingga 6.550, sedangkan area batas atas berada pada rentang 6.650 hingga 6.799.

"Selama IHSG mampu bertahan di atas area support tersebut, struktur bullish jangka pendek masih terjaga dan peluang untuk kembali menguji area resistance tetap terbuka," ujar Reza Diofanda, Analis BRI Danareksa Sekuritas.

Pasar keuangan domestik merespons pelantikan resmi Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031. Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas utama, seperti minyak mentah jenis Brent yang bergerak di atas USD94 per barel dan minyak sawit mentah (CPO) di kisaran MYR4.950 per ton.

Dari pasar global, investor terus mencermati tekanan jual di pasar obligasi luar negeri yang dipicu oleh kekhawatiran inflasi tinggi, potensi kenaikan suku bunga, serta beban utang. Selain itu, pergerakan harga minyak mentah jangka pendek dan perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Data ekonomi Amerika Serikat terkait pencatatan tenaga kerja non-pertanian (NFP) dan tingkat pengangguran pada 4 September menjadi perhatian pelaku pasar global. Indikator tersebut dinilai krusial dalam menentukan arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) serta pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Pada perdagangan sesi pertama Rabu (2/9/2026), aksi jual investor asing tercatat mencapai penjualan bersih sebesar Rp379,67 miliar. Tekanan jual mendominasi saham-saham sektor teknologi dan pertambangan, sementara sektor perbankan mencatatkan pembelian bersih terbesar oleh investor luar negeri.

Tekanan di pasar domestik sejalan dengan pelemahan mayoritas indeks saham di kawasan berkembang Asia Pasifik. Indeks KOSPI Korea Selatan merosot 3,23 persen, TWSE Taiwan turun 1,60 persen, dan NIFTY India terkoreksi 0,81 persen, sedangkan FBMKLCI Malaysia menjadi satu-satunya indeks yang menguat tipis 0,06 persen.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed