IHSG Ditutup Turun Tipis ke Level 6595 Hari Ini

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan dengan penurunan tipis 0,06% ke level 6.595,78 pada Rabu (2/9/2026). Pergerakan indeks saham domestik tersebut cenderung terbatas sepanjang hari perdagangan sebagaimana dilansir dari Detik Finance. Aktivitas investor asing masih menunjukkan aksi jual bersih di pasar saham domestik.

Pada pasar reguler, catatan penjualan bersih asing mencapai Rp235,16 miliar, sedangkan akumulasi nilai di seluruh pasar menyentuh Rp326,64 miliar. Dari 11 sektor yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sebanyak enam sektor berakhir di zona merah. Sektor bahan baku atau Basic Materials mencatatkan penurunan terdalam hingga 1,34%, sementara sektor Technology memimpin penguatan dengan kenaikan 3,74%.

Beberapa saham yang mencatatkan penguatan menonjol di antaranya BELI yang melonjak 24,54%, DCII naik 4,08%, dan BBCA menguat 1,14%. Di sisi lain, saham BYAN terkoreksi 2,49%, AMMN melemah 2,06%, serta ASII melorot 1,63%.

Pelaku pasar saat ini tengah memantau penundaan jadwal penghapusan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1. Kebijakan yang semula dijadwalkan berlaku pada 7 September diputuskan bergeser ke pekan ketiga atau keempat September. Pada perdagangan bursa global sebelumnya, indeks saham Amerika Serikat ditutup menguat.

Indeks Dow Jones naik 0,56% ke level 53.061, S&P 500 bertambah 0,46% ke 7.666, dan Nasdaq terangkat 0,45% ke 26.217. Sementara di pasar offshore, ETF EIDO menguat 0,54% dan indeks MSCI Indonesia naik 0,25%.

PT Samindo Resources Tbk (MYOH) melaporkan pencapaian produksi batu bara sebesar 3,33 juta ton hingga Juli 2026. Angka tersebut melampaui target tahunan sebesar 3,16 juta ton serta meningkat dari realisasi periode sama tahun lalu yang sebesar 2,90 juta ton. Kinerja operasional MYOH didukung volume pengangkutan batu bara (coal hauling) sebesar 14,09 juta ton dan pengerukan lapisan penutup (overburden removal) sebesar 21,01 juta BCM. Capaian ini didorong cuaca kondusif, efisiensi jarak angkut, dan peningkatan volume dari klien utama PT Kideco Jaya Agung.

Sementara itu, PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) merencanakan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Perseroan memproyeksikan penerbitan 218,09 juta saham baru Seri B atau setara 5,79% dari total modal disetor. Pelaksanaan PMTHMETD tersebut ditetapkan pada harga Rp325 per saham dengan nilai total transaksi sekitar Rp70,88 miliar atau US$4,11 juta.

Aksi korporasi ini difokuskan untuk restrukturisasi dan penyelesaian kewajiban utang kepada kreditor tanpa penerimaan dana tunai. Dalam rencana penerbitan saham tersebut, sebanyak 62,31 juta saham dialokasikan untuk membayar utang kepada HSBC Bank PLC senilai US$1,17 juta. Sisanya, 155,78 juta saham diserahkan kepada The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited guna menyelesaikannya kewajiban US$2,93 juta.

Apabila konversi saham terlaksana, total utang APEX kepada Kreditor Sindikasi Luar Negeri diperkirakan menyusut dari US$36,25 juta menjadi US$8,67 juta. Transaksi ini berpotensi memicu dilusi kepemilikan pemegang saham lama sebesar 5,79% dan membutuhkan persetujuan RUPSLB pada 7 Oktober 2026.

Di sisi lain, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menjajaki potensi pendanaan mencapai Rp2 triliun dari Danantara Investment Management (DIM). Proses diawali lewat penandatanganan dokumen indikatif awal yang tidak mengikat pada 28 Agustus 2026 untuk mendukung ekspansi bisnis kendaraan listrik. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) bertindak sebagai penjamin dalam rencana pendanaan tersebut, yang juga mencakup skema hak konversi saham bagi DIM. Meski demikian, manajemen menegaskan kesepakatan tersebut masih pada tahap awal dan belum bersifat komitmen final.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed