Iran Balas Serangan AS yang Hantam Pesta Pernikahan di Kuhestak
Iran bertekad membalas serangan udara Amerika Serikat yang menghantam sebuah pesta pernikahan di kota pesisir Kuhestak di sepanjang Selat Hormuz pada Selasa malam lalu, yang menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai 68 lainnya.
Serangan tersebut terjadi setelah AS melancarkan serangan terhadap target-target milik Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Pejabat Iran menilai serangan itu sebagai kejahatan perang, sedangkan AS menyatakan tidak pernah menargetkan warga sipil.
Komandan IRGC Ahmad Vahidi mengatakan, "Darah murni para martir ini... tidak akan dibiarkan begitu saja dan pasti akan dibalas." Pernyataan tersebut disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, dilansir Al Arabiya dan AFP pada Jumat (4/9/2026).
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan Washington sedang menyelidiki laporan mengenai serangan yang menghantam pesta pernikahan di wilayah Iran bagian selatan.
"Saya sangat skeptis mengenai hal ini," ujar Vance menanggapi laporan media pemerintah Iran yang menyebut serangan udara AS menghantam perayaan pernikahan di Sirik, Iran bagian selatan.
Vance menambahkan, "Hal yang dapat saya katakan dengan keyakinan 100 persen adalah, tidak seperti IRGC, Amerika Serikat tidak pernah menargetkan warga sipil dalam pertempuran. Kami tidak akan pernah melakukan hal semacam itu. Kami belum pernah melakukannya." Namun dia mengakui korban sipil bisa saja terjadi dalam operasi militer.
Pada Selasa (1/9/2026), analisis sejumlah pakar persenjataan yang ditinjau oleh Reuters memperlihatkan bahwa ledakan di pesta pernikahan kemungkinan besar berasal dari amunisi AS yang menghantam langsung, bukan serpihan amunisi lain.
Salah satu pakar menyatakan senjata tersebut mungkin meleset dari target sebenarnya, sedangkan tiga dari empat pakar memprediksi amunisi tersebut buatan AS, bukan rudal pertahanan udara Iran.
Militer AS mengatakan telah mengetahui laporan Iran dan menyatakan pasukan AS tidak pernah menjadikan warga sipil sebagai sasaran. Pemerintah AS masih melakukan penyelidikan mendalam atas insiden tersebut.
Sejak 28 Februari 2026, kedua negara telah terlibat konflik bersenjata setelah serangan besar yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Meskipun gencatan senjata sempat terjadi pada April, baku tembak sporadis masih berlangsung.
Pada 30 Agustus 2026, AS menyerang peluncur roket Iran di Pulau Larak untuk mencegah penyebaran ranjau laut di Selat Hormuz. Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Yordania dan Uni Emirat Arab.
Yordania, yang menjadi sekutu AS dan lokasi pangkalan militer penting, menghadapi tekanan serangan Iran. Raja Abdullah II menegaskan pentingnya aliansi dengan AS untuk menghadapi ancaman regional.
Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi menegaskan, "Iran telah menyerang kami dan banyak negara lain di kawasan jauh sebelum perang ini dimulai. Kami tidak menerima argumen mereka. Kami adalah negara berdaulat. Kami bukan pihak dalam perang ini."
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow