Kartu Pokemon Berpotensi Jadi Mata Uang Global Menurut Pakar

Smallest Font
Largest Font

Pakar keuangan sekaligus Pendiri Griffin Gaming Partners, Peter Levin, menilai kartu Pokemon berpotensi menjadi mata uang global jika terjadi krisis besar di dunia. Pernyataan tersebut disampaikan Levin sebagaimana dilansir dari Detik iNET pada Jumat (11/9/2026).

Pemilik lebih dari 500 ribu kartu koleksi tersebut mengungkapkan bahwa nilai pertumbuhan kartu Pokemon berhasil melampaui indeks pasar saham S&P 500 yang mencatatkan kenaikan sebesar 3.000 persen. Lonjakan nilai ini menjadikan kartu fisik tersebut sebagai aset bernilai tinggi di pasar internasional.

"Pokemon adalah fenomena global. Saya sangat yakin bahwa jika dunia mengalami kiamat besok, lusa mata uang globalnya adalah kartu Pokemon," kata Levin.

Ia menerangkan bahwa popularitas kartu tersebut bermula dari Jepang pada akhir 1990-an sebelum akhirnya menyebar ke seluruh dunia. Meski sempat berada di titik terendah, tren nilainya terus merangkak naik secara pesat.

"Berasal dari Jepang, popularitasnya benar-benar mendunia pada akhir tahun 90-an dan awal 2000-an. Kemudian mengalami puncak kejayaan dan kemudian titik terendah, dan sejak saat itu, pertumbuhannya sangat pesat. Dan hal itulah yang mendorong ekspansi pasar internasional untuk kartu koleksi," tambah Levin.

Kenaikan minat pasar juga tidak terlepas dari keterlibatan sejumlah tokoh terkenal. Contohnya aksi pamer kartu oleh DJ Steve Aoki hingga penjualan fantastis oleh Logan Paul senilai USD 16,5 juta pada awal tahun 2026.

"Media sosial telah menjadi daya tarik yang sangat besar. Penjualan itu sangat terkenal. Puluhan, bahkan mungkin ratusan juta orang menonton lelang tersebut. Jika Anda membuka platform media sosial mana pun, ada selebriti yang menyukai kartu koleksi," ujar Levin.

Levin menambahkan bahwa platform digital seperti TikTok, Instagram, serta situs lelang langsung Whatnot yang valuasinya menembus USD 20 miliar menjadi motor utama dari aktivitas transaksi ini.

"Secara khusus, TikTok adalah pendorong utama aktivitas semacam ini. Instagram juga demikian. Dan ada platform lelang langsung, seperti Whatnot, yang baru-baru ini nilai valuasinya meningkat menjadi USD 20 miliar," ucap Levin.

Di awal merintis perusahaannya, hobi mengumpulkan kartu milik Levin sempat mendapat ejekan dari rekan-rekannya. Namun, ia melihat collectible card sebagai wadah interaksi sosial nyata di tengah maraknya teknologi digital.

"Tetapi saya akan mengatakan kepada orang-orang: semakin digital kita, semakin teknologi mutakhir ini mengambil alih kehidupan kita, semakin banyak orang akan kembali ke pengalaman komunitas yang lebih nyata dan berkesan serta pengalaman kehidupan nyata untuk dibagikan dengan orang lain. Dan collectible card adalah perwujudan yang luar biasa dari hal itu," pungkas Levin.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed