Kebakaran Hutan Labanan Ancam Pusat Rehabilitasi Orang Utan Berau

Smallest Font
Largest Font

Kebakaran hutan dan lahan di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, makin mendekati pusat rehabilitasi orang utan milik Centre for Orangutan Protection (COP), seperti dilansir dari Detik Travel pada Sabtu (22/8/2026).

Titik api kini berjarak sekitar 550 meter dari lokasi rehabilitasi. Kondisi ini menyebabkan abu sisa pembakaran mulai beterbangan dan masuk ke area kandang orang utan bernama Ambon.

Direktur COP Daniek Hendarto memantau langsung pemadaman api di sekitar KHDTK Labanan yang terus bergerak akibat munculnya titik-titik api baru.

"Dua hari yang lalu itu cuma 550 meter dari camp pusat rehab kami di KHDTK Labanan. Abu yang terbang sudah sampai kandang orang utan yang bernama Ambon. Tapi masih cukup kondusif," ujar Daniek Hendarto, Direktur COP.

Sebagai langkah antisipasi, COP menyiapkan skenario evakuasi darurat menuju Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) di Kampung Tasuk apabila situasi memburuk.

"Kami sudah siap dengan kejadian terburuk, seperti siap evakuasi orang utan Ambon ke lokasi BORA yang ada di Kampung Tasuk, Berau," ujar Daniek Hendarto.

Proses persiapan pemindahan tersebut mencakup penyediaan kandang transport, peralatan medis, serta kesiapan personel teknis di lapangan.

"Persiapan meliputi kandang transport, peralatan dan perlengkapan medis dan personel untuk evakuasi. Tapi sejauh ini, hingga sekarang, Ambon masih baik-baik saja dan lokasi masih terjaga," ujar Daniek Hendarto.

Karhutla di kawasan KHDTK Labanan mendaki intensitas sejak terpantau pada 8 Agustus, dengan jarak awal titik api berada 1,3 kilometer dari kandang rehabilitasi.

"Di belakang bekas lahan terbakar ini masih ada kebakaran baru yang terjadi dan teman-teman masih melakukan monitoring kondisi situasinya untuk melakukan upaya-upaya preventif pemadaman," kata Daniek Hendarto.

Kendala utama pemadaman meliputi keterbatasan akses jalan, minimnya persediaan air, hingga terbatasnya jumlah personel penanggulangan bencana.

"Karena memang pemadaman ini bukan pekerjaan yang mudah, sehingga apa pun caranya pengelolaan lahan tidak perlu dilakukan lagi dengan pembakaran lahan. Karena memang ini akan merembet menjadi skala yang lebih besar dan mengancam ekosistem yang ada di sekitar kebakaran tersebut," ujar Daniek Hendarto.

Petugas Manggala Agni Eko Usnaini membenarkan bahwa hambatan terbesar di lokasi kebakaran adalah ketersediaan sumber air yang berjarak cukup jauh.

"Di KHDTK Labanan, kendala kami itu titik air. Titik air itu cukup lumayan jauh. Sama peralatan tangki," kata Eko Usnaini, Petugas Manggala Agni.

Tim Manggala Agni mengoperasikan dua unit tangki berkapasitas 1.200 liter, namun tingginya tekanan mesin membuat air habis dalam waktu singkat.

"Isi profil tank itu kurang lebih 1.200. Ada dua unit. Jadi kita menggunakan Maxtree yang kecepatannya tinggi.

Kurang lebih belasan menit saja habis. Perlu lagi waktu mengambil air," ujar Eko Usnaini.

Sementara itu, Pendiri COP Hardi Baktiantoro soroti dampak negatif kerusakan ekosistem dan hilangnya habitat satwa liar di kawasan terdampak.

"Kita lihat di sini langit terlihat sepi, tidak ada burung. Kemungkinan besar mereka semua sudah berhasil kabur. Begitu juga beberapa mamalia besar seperti orang utan dan juga monyet," ujar Hardi Baktiantoro, Pendiri COP.

Hardi menegaskan ancaman kelangsungan hidup satwa berlanjut setelah kebakaran akibat hilangnya ketersediaan pakan dan vegetasi.

"Tetapi bagi satwa yang berhasil lolos sekalipun dari api, tantangan terbesar adalah bagaimana mereka bisa mempertahankan diri dari kurangnya air dan juga ketiadaan makanan karena semua sudah terbakar," katanya Hardi Baktiantoro.

Kerusakan lingkungan akibat pembakaran lahan dinilai berpotensi memicu kehancuran ekologis jangka panjang apabila tidak segera dihentikan.

"Jadi kebakaran hutan, kebakaran lahan, baik sengaja atau tidak itu adalah sebenarnya menuju kiamat ekologis yang harus kita hentikan sekarang," ujar Hardi Baktiantoro.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed