Tim SAR Evakuasi Induk dan Bayi Orang Utan di Kutai Timur

Smallest Font
Largest Font

Tim penyelamat berhasil mengevakuasi induk dan bayi orang utan yang mengalami malnutrisi akibat kemarau panjang di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Sebagaimana dilansir dari Detik Travel, satwa dilindungi tersebut kini menjalani perawatan di Pusat Rehabilitasi Satwa Long Sam, Berau.

Kondisi kekeringan memicu berkurangnya ketersediaan pakan dan air secara drastis di area habitat. Pada saat yang sama, kemunculan sejumlah titik api akibat kebakaran hutan dan lahan memicu ancaman keselamatan satwa wild di kawasan terfragmentasi tersebut.

Founder Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto menjelaskan penanganan satwa tersebut di lapangan.

"Keduanya diselamatkan dari kawasan hutan yang telah terfragmentasi dan terdampak kemarau panjang," ujar Paulinus Kristanto, Founder Conservation Action Network (CAN) Borneo.

Kekeringan parah membuat satwa langka ini kesulitan mendapatkan akses makanan dan minum harian di alam liar.

"Saat diperiksa, keduanya mengalami malnutrisi sehingga dibawa ke Pusat Rehabilitasi Satwa Long Sam," kata Paulinus Kristanto.

Pemeriksaan kesehatan intensif serta pemulihan kondisi tubuh dilakukan langsung oleh tim medis hewan begitu satwa tiba di tempat penampungan.

"Kondisi satwa yang diselamatkan saat ini relatif stabil dan terus membaik. Mereka berada dalam pengawasan tim medis, mendapatkan perawatan, tambahan nutrisi, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala," kata Paulinus Kristanto.

Proses evakuasi satwa di lokasi bencana tidak hanya berfokus pada mamalia besar, tetapi juga spesies terlindungi lainnya.

"Sementara induk orang utan dan bayinya berasal dari wilayah Kutai Timur," ujar Paulinus Kristanto.

Pemantauan lapangan terus dilakukan guna mendata seluruh fauna terdampak ancaman kebakaran hutan yang terus meluas.

"Jumlah ini masih bersifat sementara karena tim terus melakukan patroli dan pendataan di lapangan. Pelepasliaran baru akan dilakukan setelah kondisi satwa pulih dan habitatnya kembali dinilai aman," kata Paulinus Kristanto.

Lokasi rehabilitasi hewan di Long Sam turut menghadapi ancaman Karhutla yang berjarak sekitar 10 kilometer dari fasilitas penangkaran.

"Upaya pemadaman dan pembuatan sekat dilakukan untuk memutus pergerakan api. Namun, kondisi belum sepenuhnya aman karena cuaca sangat kering, arah angin dapat berubah, dan titik api berpotensi muncul kembali," kata Paulinus Kristanto.

Kondisi geografis dan cuaca ekstrem menjadi penghambat utama bagi tim gabungan dalam memadamkan kobaran api.

"Kendala utama pemadaman adalah lokasi yang sulit dijangkau, sumber air yang mulai mengering, api yang masuk ke lapisan tanah dan gambut, keterbatasan peralatan serta logistik, dan kondisi tim yang mulai kelelahan," ujar Paulinus Kristanto.

Penurunan debit air di sekitar fasilitas rehabilitasi mulai diantisipasi agar pasokan konsumsi satwa tetap terpenuhi.

"Namun, kami tetap melakukan langkah antisipasi karena kemarau menyebabkan debit beberapa sumber air menurun serta ketersediaan pakan alami semakin terbatas," kata Paulinus Kristanto.

Petugas gabungan dan warga sekitar meningkatkan kewaspadaan penuh untuk menjaga ketersediaan pasokan logistik penanganan satwa.

"Persediaan air, pakan, obat-obatan, dan kebutuhan darurat terus dipantau," kata Paulinus Kristanto.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed