Kemendikdasmen Catat Pendaftaran TKA SMA Baru 43,9 Persen
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat hingga 1 September 2026, baru sekitar 43,9 persen sekolah menengah atas (SMA) yang mendaftar Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA/SMK/sederajat.
Jumlah pendaftar siswa mencapai lebih dari 3,5 juta, namun total sekolah yang mendaftar baru sekitar 6.000 dari 14.925 satuan pendidikan di seluruh Indonesia, menurut data yang dilaporkan Kemendikdasmen dan dikutip dari Detikcom.
Direktur SMA Kemendikdasmen, Yuli Haryanto, menyatakan bahwa masih sekitar 60 persen satuan pendidikan SMA belum melakukan pendaftaran TKA yang dijadwalkan berakhir pada 27 September 2026.
"Berdasarkan data cut off per tanggal 1 September 2026, baru sekitar 43,9% satuan pendidikan jenjang SMA yang telah mendaftar atau sekitar 6.000 dari 14.925 satuan pendidikan seluruh Indonesia," ujar Yuli Haryanto dalam Webinar Bincang SMA TKA 2026, Kamis (3/9/2026).
Ia mengingatkan agar kepala sekolah tidak menunda proses pendaftaran untuk menghindari kendala teknis yang mungkin muncul jika mendekati batas akhir pendaftaran.
"Jangan menunda pendaftaran. Segera periksa status satuan pendidikan. Pastikan data peserta didik kita sudah benar dan selesaikan seluruh tahapan pendaftaran yang diperlukan," tegas Yuli.
Yuli juga menjelaskan pentingnya pendaftaran lebih awal agar sekolah memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan sarana, prasarana, guru, dan mendampingi murid dengan baik dalam menghadapi TKA.
"Jangan sampai nanti ada persoalan administratif atau keterlambatan sekolah justru membuat murid kehilangan kesempatan ini (mendaftar TKA)," ujarnya.
Terkait persiapan TKA, Yuli menegaskan bahwa sekolah diperbolehkan melakukan pendampingan, namun dengan fokus memperkuat pembelajaran konsep, kemampuan bernalar, membaca, numerasi, dan membangun kepercayaan diri siswa, bukan hanya sekadar latihan soal.
Menurutnya, capaian TKA 2025 di jenjang SMA perlu menjadi bahan evaluasi, dengan rata-rata nilai bahasa Indonesia 57,47, matematika 37,34, dan bahasa Inggris 26,87.
"Dua mata pelajaran dengan nilai terendah yakni matematika dan bahasa Inggris murid perlu ditingkatkan. Maka jawabannya bukan sekedar memperbanyak latihan menjelang tes, tapi yang harus kita perkuat adalah kualitas pembelajarannya," ujar Yuli menambahkan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow