Kemendikdasmen Beri Pendampingan Psikososial Sekolah Terdampak Gempa NTT

Smallest Font
Largest Font

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah merespons kebutuhan 857 satuan pendidikan serta 101.888 peserta didik yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur pada Senin (14/9/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Dr Saryadi, ST, MBA menyatakan bahwa program dukungan psikososial saat ini telah berjalan di 75 sekolah dengan melibat mitra penanggulangan bencana.

Pemerintah juga berencana memperluas jangkauan pemulihan dengan menggelar pelatihan intensif yang ditujukan bagi para fasilitator penanganan pascabencana di daerah tersebut.

"Dalam waktu dekat, Kementerian akan melaksanakan pelatihan bagi 120 fasilitator nasional dan juga 1.700 fasilitator daerah yang akan menyasar 51.000 pendidik dan tenaga kependidikan di 7 kabupaten terdampak dengan fokus pada dukungan psikososial dan pemulihan pembelajaran pascagempa," kata Saryadi.

Program penyiapan fasilitator tersebut digarap oleh Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui kerja sama lintas lembaga, termasuk Universitas Diponegoro dan Universitas Padjadjaran.

"Dan juga dukungan dari mitra yakni Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi)," kata Saryadi.

Kebutuhan pendampingan ini diperkuat oleh temuan lapangan dari tim relawan psikologi yang mengidentifikasi adanya gangguan mental pada sejumlah peserta didik pascabencana.

Ketua Divisi Program Kebencanaan Korps Relawan Bencana Himpunan Psikologi Indonesia (Kresna Himpsi), Yuria Ekalitani menjelaskan bahwa asesmen cepat di Kabupaten Ngada dan Nagekeo menunjukkan adanya kecemasan mendalam pada anak-anak akibat gempa susulan.

"Beberapa juga menjadi sulit tidur, takut jika masuk ke dalam rumah, tidak mau menutup pintu karena takut ada gempa susulan, sulit konsentrasi, dan beberapa dampak psikologis lainnya," kata Yuria.

Sebagai bentuk intervensi awal bagi murid, Himpsi mendirikan Tenda Gembira dengan metode bermain terstruktur serta pelatihan teknik stabilisasi emosi. Para guru turut mendapatkan pembekalan psikoedukasi awal melalui program Supportive, Accompaniment, Psychosocial, Assistance untuk membantu penanganan di sekolah.

"Untuk bisa lebih terlatih, guru perlu mendapatkan pelatihan untuk memberikan layanan dukungan psikososial kepada siswa didik," kata Yuria.

Upaya pemulihan pendidikan di NTT ini turut didukung penyediaan kelas darurat dan perlengkapan sekolah dari konsorsium lembaga kemanusiaan seperti Plan Indonesia, CIS Timor, Save the Children, Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, PMI, Koalisi Kopi, MDMC, dan INOVASI.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed