SDN Pangabatang Terima Smart TV, Namun Belum Miliki Listrik

Smallest Font
Largest Font

SDN Pangabatang di Pulau Dambila, Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menerima bantuan Smart TV digital sejak Agustus 2025. Namun, perangkat tersebut belum dapat digunakan secara maksimal karena sekolah belum memiliki akses listrik.

Untuk mengoperasikan Smart TV, sekolah harus mengandalkan genset yang memerlukan bahan bakar bensin. Guru SDN Pangabatang, Jamila, menyampaikan bahwa kebutuhan bensin menjadi kendala dalam pemanfaatan perangkat tersebut.

"Misalnya saya mau pakai untuk video pembelajaran di kelas IV, maka harus beli bensin. Dalam seminggu enam botol, harganya Rp22 ribu," ujar Jamila.

Setiap botol berisi sekitar 1,5 liter bensin yang digunakan selama pembelajaran dari pagi hingga siang, biasanya sebanyak dua botol. Biaya bensin biasanya diambil dari dana operasional sekolah atau dana BOS, namun jika dana BOS belum cair, guru harus membeli sendiri.

"Untuk pengadaan bensin kami pakai dana BOS. Kalau BOS belum cair, kami beli sendiri," kata Jamila.

Penggunaan Smart TV juga disesuaikan dengan materi pembelajaran. Materi seperti kelautan diajarkan langsung di lingkungan sekitar sekolah.

"Kalau ada materi kelautan, kami bawa para siswa keluar belajar di lingkungan," ujarnya.

Selain kendala listrik, sekolah juga mengalami kesulitan saat musim hujan karena kurangnya cahaya matahari sehingga harus menggunakan lampu pelita.

"Kalau di kepulauan kami saat musim hujan gelap, kami harus pakai lampu pelita, karena waktu musim hujan cahaya matahari sedikit," ujar Jamila.

Jamila berharap pemerintah menyediakan akses listrik atau panel surya berkapasitas besar sebagai sumber energi di sekolah.

"Kami butuh listrik. Kalau misalnya listrik tidak ada, maka ada panel surya skala besar untuk kebutuhan sekolah supaya dalam pemakaian sehari bisa," kata Jamila.

Selain listrik, kebutuhan fasilitas penampungan air juga belum tersedia dan diharapkan dapat dibantu pemerintah.

SDN Pangabatang memiliki 17 siswa dari kelas I sampai VI dengan total delapan tenaga pendidik. Meskipun Smart TV menjadi tambahan sarana pembelajaran, keterbatasan listrik membuatnya belum optimal.

Kepala Seksi Pelayanan Pemerintah Desa Parumaan, Karim, menyatakan krisis listrik dan air bersih menjadi masalah lama yang dialami warga Pulau Dambila dan Pulau Pangabatang.

"Terkhusus Dusun C yang melingkup Pulau Dambila dan Pulau Pangabatang, masalah yang urgen dihadapi warga dan sudah terjadi bertahun-tahun adalah masalah air bersih dan kita sangat kekurangan listrik. Bahkan ade-ade yang belajar menggunakan lampu pelita masih ada," ujar Karim.

Karim mengharapkan persoalan ini mendapat perhatian dari pemerintah dan pihak lain yang peduli dengan masyarakat kepulauan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed