Kemenkes Ingatkan Risiko Fenomena Penularan Bunuh Diri Kasus GBK

Smallest Font
Largest Font

Kementerian Kesehatan merespons maraknya pembahasan insiden bunuh diri di kawasan Gelora Bung Karno yang sempat memicu kehebohan di media sosial.

Peristiwa tragis tersebut menimpa seorang pria pada Minggu, 6 September 2026 dini hari, setelah korban mengunggah pesan terindikasi mengakhiri hidup.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI Imran Pambudi meminta isu ini tidak dijadikan pemberitaan masif yang berisiko memicu efek penularan.

Penyebaran informasi yang berlebihan berpotensi menginspirasi individu lain yang sedang menghadapi masalah psikologis untuk melakukan tindakan serupa, seperti dilansir dari Detik Health.

"Karena memang bisa menginspirasi orang lain bertindak bunuh diri bila mengalami masalah. POV-nya perlu dibalik, orang dengan masalah perlu cari pertolongan," kata Imran.

Sorotan kasus ini menjadi pengingat krusialnya upaya pencegahan bunuh diri, khususnya saat gangguan kesehatan jiwa mulai banyak menyasar kelompok usia muda.

Pemerintah telah menyediakan saluran gratis hotline pencegahan bunuh diri Healing 119.id untuk memberikan dukungan psikologis awal dan menangani dorongan mengakhiri hidup.

Data layanan Healing 119.id sejak 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026 mencatat kelompok usia 21–30 tahun sebagai pengguna paling mendominasi.

Akses layanan ini juga telah dimanfaatkan oleh anak-anak, termasuk satu anak usia 8 tahun, satu anak usia 9 tahun, dan sembilan anak usia 10 tahun.

"Layanan Healing 119.id telah diakses mulai kelompok usia 8 hingga 10 tahun, dan keinginan mengakhiri hidup terbanyak pada kelompok 11-30 tahun," ujar Imran.

Keluhan utama yang dialami oleh para pengguna dari kelompok usia muda tersebut sebagian besar dipicu oleh perasaan kesepian mendalam.

Mayoritas masyarakat yang berkonsultasi melalui saluran kesehatan mental tersebut didominasi oleh kelompok perempuan, yakni mencapai angka 73,93 persen.

Dari total sekitar 15 ribu sesi konseling yang masuk, sebanyak 7.600 orang memilih melanjutkan pendampingan, sementara 3.036 pengakses mengaku memiliki keinginan mengakhiri hidup.

Sisa pesan yang masuk mencakup permohonan informasi umum, pesan spam, hingga pengakses yang tidak memberikan respons lanjutan saat dihubungi balik.

Imran mengungkapkan bahwa konflik dalam keluarga menjadi faktor pemicu tertinggi yang dilaporkan oleh masyarakat dari berbagai rentang usia.

"Masalah dengan primary support group (keluarga) mendominasi di seluruh usia," ungkapnya.

Bentuk permasalahan keluarga ini meliputi tindak kekerasan dalam rumah tangga, keretakan hubungan orang tua dan anak, serta konflik internal keluarga lainnya.

Faktor pemicu berikutnya mencakup gangguan psikologis seperti depresi, stres, rasa cemas, hingga munculnya perasaan putus asa secara intensif.

Selain itu, tekanan lingkungan sosial berupa tindakan bullying, dinamika pertemanan, dan isolasi sosial turut memperburuk kondisi mental seseorang.

Faktor finansial juga menjadi pemicu, di antaranya biaya pendidikan, beban ekonomi keluarga, jeratan pinjaman online, hingga kecanduan judi online.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed