Korban Tewas Banjir Nepal Tembus 1.000 Orang Bantuan Tiba
Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor melanda kawasan Nepal utara melampaui 1.000 orang, sementara lebih dari 4.000 warga lainnya dilaporkan masih hilang di sepanjang aliran Sungai Trishuli pada awal September 2026.
Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Penanganan Bencana Nepal mencatat sebanyak 4.247 orang hilang, termasuk 590 warga asing dari 39 negara. Kendati demikian, petugas gabungan berhasil menyelamatkan lebih dari 10.000 orang dalam operasi penanggulangan pascabencana.
Bencana ini turut merusak infrastruktur pembangkit listrik tenaga air Upper Trishuli 3B dan area permukiman warga. Sementara itu, Distrik Chitwan dialihfungsikan menjadi lokasi penguburan massal bagi para korban meninggal dunia yang kondisinya mulai membusuk.
Para pekerja proyek pembangkit listrik terjebak di dalam terowongan saat air sungai berarus deras menerjang area kerja mereka.
"Saya berlari menuju pintu masuk terowongan," kata Pemba Dundu Tamang, pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air.
Ia menceritakan kepanikan saat berjuang menyelamatkan diri dari kejaran air berarus kencang.
"Air mengejar dari belakang, sementara saya berlari di depannya," ujar Pemba Dundu Tamang, pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air.
Proses evakuasi dan pencarian korban hilang terus difokuskan pada jaringan terowongan proyek hydro yang tertimbun material longsor.
"Kami memusatkan perhatian pada upaya pencarian dan penyelamatan di terowongan-terowongan tersebut, dan pekerjaan kami masih terus berlangsung," kata Raja Ram Basnet, Juru bicara Angkatan Darat Nepal.
Tim militer dikerahkan secara masif untuk mengevakuasi jenazah serta menekan risiko penularan penyakit di lokasi bencana.
"Para prajurit kami juga dikerahkan untuk mengevakuasi jenazah serta mencegah penyebaran penyakit," kata Raja Ram Basnet, Juru bicara Angkatan Darat Nepal.
Kondisi trauma mendalam dirasakan para pekerja yang selamat setelah kehilangan tempat tinggal dan kerabat dekat mereka.
"Saya hampir pingsan karena syok. Saya tidak bisa berpikir jernih," kata Pemba Dundu Tamang, pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air.
Puluhan anggota keluarga dari para pekerja dilaporkan hilang akibat rumah permukiman di tepi sungai tersapu air.
"Saya bisa melihat lokasi tempat rumah saya seharusnya berdiri. Tidak ada lagi yang tersisa. Saat itulah saya sadar semuanya telah hilang," kata Pemba Dundu Tamang, pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air.
Beberapa survivor meratapi nasib mereka yang kehilangan seluruh mata pencaharian dan tempat berlindung.
"Saya merasa hidup tidak lagi berarti. Bertahan hidup justru terasa menyiksa. Saya tidak tahu harus makan di mana atau pergi ke mana," kata Pemba Dundu Tamang, pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air.
Duka mendalam juga dirasakan korban selamat lain yang kehilangan keluarga inti mereka saat bencana melanda.
"Mereka yang meninggal telah tenang. Justru kami yang selamat yang harus menanggung penderitaan," kata Pemba Dundu Tamang, pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air.
Ancaman krisis ekonomi dan kerawanan pangan membayangi para pekerja hydro yang selamat.
"Mungkin memang belum takdir saya untuk meninggal," kata Itha Ghale, rekan kerja Pemba Dundu Tamang.
Ia pasrah menyikapi ketidakpastian masa depan pascabencana yang merusak fasilitas tempatnya bekerja.
"Jika kondisi seperti ini terus berlanjut, kami akan kelaparan. Kadang saya merasa mungkin lebih baik jika saya tidak selamat," kata Pemba Dundu Tamang, pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air.
Harapan tersisa dilontarkan oleh para pekerja agar rekan-rekannya yang terperangkap dapat segera dievakuasi.
"Kemungkinan masih ada korban yang selamat di dalam. Saya akan sangat senang jika mereka bisa segera diselamatkan," kata Pemba Dundu Tamang, pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air.
Penyelamatan terus mengandalkan peralatan berat untuk menembus material longsoran di beberapa titik proyek hydro.
"Saya mengenal banyak orang yang hingga kini masih terjebak di sana," kata Pemba Dundu Tamang, pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air.
Di sisi lain, sebuah bangunan rumah tua berusia 40 tahun berwarna hijau di Nepal sempat viral karena struktur fondasinya tetap berdiri kokoh meski dihantam banjir bandang.
"Ini rumah tua, berusia sekitar 40 tahun. Rumah ini dibangun pada masa ketika kualitas semen dan bahan bangunan masih lebih baik," kata Prakash Pandey, penghuni rumah hijau Nepal.
Bangunan tersebut diperkuat material ekstra pada struktur bawahnya guna mengantisipasi letaknya yang berada dekat Sungai Trishuli.
"Kami juga telah menghabiskan cukup banyak uang untuk memperkuat rumah karena letaknya dekat dengan sungai. Dari segi keamanan, kami juga telah memasang dua atau tiga lapis material jalan di bawahnya. Jadi fondasinya dibuat cukup kuat. Kami telah mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk rumah ini," kata Prakash Pandey, penghuni rumah hijau Nepal.
Penghuni rumah berjuang menyelamatkan diri naik ke lantai tertinggi saat air luapan sungai merendam bangunan.
"Airnya naik sampai lantai empat. Setelah itu, kami naik ke lantai atas, ke lantai paling atas," kata Prakash Pandey, penghuni rumah hijau Nepal.
Kerusakan parah pada barang dagangan dan persediaan toko memaksa keluarga Prakash mengungsi dari area kejadian.
"Apa pun yang ada di sini telah hancur atau terkubur dalam lumpur. Sekarang kita harus membangun semuanya kembali," kata Prakash Pandey, penghuni rumah hijau Nepal.
Menanggapi krisis kemanusiaan ini, Pemerintah China menyalurkan bantuan gelombang kedua berupa peralatan teknologi modern dan pemurnian air.
"Gelombang kedua pasokan bantuan yang diberikan China kepada Nepal diharapkan akan dikirim hari ini. Pasokan ini mencakup barang-barang yang sangat dibutuhkan seperti drone, peralatan dan 'reagen' untuk pengujian DNA, serta peralatan untuk pemurnian air dan penerangan," kata Guo Jiakun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China.
Pemerintah Tiongkok telah mengirimkan puluhan ton logistik serta menerjunkan tim ahli untuk mengidentifikasi korban.
"Para ahli pengujian DNA China juga akan segera berangkat ke daerah-daerah yang terkena bencana untuk membantu Nepal dalam operasi mereka," kata Guo Jiakun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China.
Tiongkok mengerahkan lebih dari 2.100 personel SAR serta membagikan informasi hidrologi guna mencegah terjadinya bencana sekunder di Nepal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow