Lonjakan Korban Jiwa Banjir Bandang Nepal Tembus 580 Orang

Smallest Font
Largest Font

Jumlah korban hilang akibat banjir bandang di perbatasan Nepal dan Tiongkok melonjak drastis hingga mendekati 1.900 orang pada Jumat, 28 Agustus 2026. Bencana yang dipicu runtuhnya batuan dan gletser pegunungan Himalaya pada Rabu lalu ini telah menewaskan lebih dari 580 jiwa di kedua negara.

Badan penanggulangan bencana Nepal mengonfirmasi lonjakan data korban hilang terjadi setelah pengembang proyek pembangkit listrik tenaga air melaporkan sekitar 900 perkerja mereka hilang kontak. Sementara itu, otoritas Tiongkok mencatat lima korban tewas dan 558 orang hilang di wilayah Tibet. Secara keseluruhan, korban tewas di Nepal mencapai 579 orang.

Analisis citra satelit memperlihatkan bahwa kehancuran dipicu oleh runtuhnya batuan dasar di bawah gletser puncak Langtang Lirung. Runtuhan batu dan es dalam jumlah besar tersebut meluncur deras menelusuri lembah sempit, lalu memicu luapan air dan lumpur setinggi beberapa lantai yang menerjang pemukiman warga.

Ife Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyoroti besarnya dampak bencana terhadap masyarakat lokal yang bermukim di sekitar aliran sungai.

"Trauma akibat peristiwa ini sangat besar," kata David Fisher, Kepala Delegasi IFRC untuk Nepal.

Penjelasan tersebut menggambarkan tingkat kerusakan yang dialami ribuan keluarga akibat terjangan air bah secara tiba-tiba.

"Ribuan rumah telah hancur atau mengalami kerusakan signifikan. Kami memperkirakan sedikitnya 93.000 orang terdampak dan membutuhkan bantuan mendesak. Jumlah korban tewas sangat tinggi dan sayangnya kemungkinan akan terus bertambah," kata David Fisher, Kepala Delegasi IFRC untuk Nepal.

Kerusakan infrastruktur yang parah menghambat proses distribusi bantuan dan pencarian korban selamat. Lebih dari 40 jembatan hancur serta akses jalan sepanjang puluhan kilometer terputus total. Pemerintah Nepal menaksir kerugian fisik awal akibat bencana ini telah melebihi 1,3 miliar dolar AS.

Situasi di lapangan kian memprihatinkan karena warga dan tim penyelamat dibayangi ancaman banjir susulan dari danau debris di Tibet yang mulai meluap.

"Masyarakat mengalami trauma," kata Lila Pieters Yahia, Koordinator Residen PBB untuk Nepal.

Tim tanggap darurat PBB terpaksa bergerak sangat hati-hati di lapangan mengingat sirene peringatan bahaya terus berbunyi di distrik terdampak seperti Nuwakot.

"Dampaknya sangat luar biasa. Ini adalah negara miskin," kata Lila Pieters Yahia, Koordinator Residen PBB untuk Nepal.

Upaya evakuasi udara terus dilakukan oleh militer Nepal untuk membawa korban luka ke rumah sakit di Kathmandu. Pemerintah Nepal mengonfirmasi telah mengerahkan lebih dari 30.000 personel keamanan, tetapi saat ini belum membuka opsi untuk menerima tim pencari dan penyelamat dari negara luar.

Juru bicara kementerian luar negeri Nepal menjelaskan bahwa penanganan bencana sejauh ini masih mampu dikelola oleh otoritas domestik.

"Tawaran bantuan adalah hal yang wajar," kata Lok Bahadur Chhetri, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Nepal.

Pemerintah menegaskan keberadaan lembaga keamanan nasional sudah cukup optimal dalam menyisir kawasan terdampak.

"Lembaga keamanan kami sedang melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Untuk saat ini kami belum memerlukan bantuan tersebut," kata Lok Bahadur Chhetri, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Nepal.

Presiden Tiongkok Xi Jinping telah menyampaikan duka cita mendalam kepada Presiden Nepal Ram Chandra Paudel dan berjanji memberikan dukungan pemulihan pascabencana.

"Saya yakin rakyat kedua negara akan dapat bergandengan tangan untuk mengatasi bencana dan membangun kembali rumah mereka," kata Xi Jinping, Pemimpin Tiongkok.

Pihak berwenang Tiongkok menyatakan bahwa rangkaian bencana bermula dari tanah longsor dan awan es di wilayah Nepal yang mengalir ke Tiongkok sebelum berbalik menghantam desa-desa perbatasan.

Di tingkat akademis, para ahli geomorfologi terus meneliti tingkat ketidakstabilan lereng es di dataran tinggi tersebut.

"Ini menunjukkan seluruh area tanpa ada yang tersembunyi, dan kami dapat melihat bahwa, ya, tampaknya tidak hanya gletser ini yang runtuh, tetapi bagian yang jauh lebih besar dari batuan dasar lereng gunung itu sendiri yang telah runtuh," kata Dan Shugar, Profesor Magister di Universitas Calgary.

Para ilmuwan menilai fenomena runtuhnya batuan dan es dalam skala masif ini berkaitan erat dengan tren pemanasan global yang melelehkan lapisan permafrost penahan struktur gunung.

"Meskipun saat ini kami tidak dapat secara langsung menghubungkan runtuhnya lereng ini dengan perubahan iklim, tidak mengejutkan untuk melihat lebih banyak peristiwa jenis ini seiring memanasnya iklim," kata Kristen Cook, Peneliti Geomorfologi di Université Grenoble Alpes.

Hingga kini, operasi pencarian korban selamat masih difokuskan di sepanjang aliran Sungai Trishuli menggunakan armada helikopter militer.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed