Mengenali Gejala Usus Buntu pada Balita yang Sering Memicu Komplikasi
Mendeteksi keluhan kesehatan pada usia anak-anak sering kali menjadi tantangan besar bagi para orang tua. Keterbatasan komunikasi membuat balita sulit menggambarkan lokasi spesifik dan rasa sakit yang mereka alami.
Kondisi ini membuat orang tua sulit membedakan antara gangguan pencernaan biasa dan masalah medis darurat, seperti radang usus buntu. Kejelian ekstra sangat dibutuhkan untuk membaca tanda-tanda penyakit tersebut pada anak.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastrohepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Himawan Aulia Rahman, SpA, Subsp.G.H.(K), menjelaskan bahwa diagnosis usus buntu pada balita terbilang rumit. Gejalanya sangat mudah mengecoh dan kerap disangka sakit perut biasa, seperti dilansir dari Detik Health.
Gejala usus buntu pada remaja dan orang dewasa umumnya memiliki tahapan yang jelas. Kondisi ini diawali dengan penurunan nafsu makan, timbul rasa nyeri di sekitar pusar atau ulu hati, mual dan muntah, lalu nyeri berpindah ke perut kanan bawah.
Sebaliknya, alur gejala klasik tersebut sangat sulit diidentifikasi pada kelompok balita. Anak kecil belum mampu menyampaikan perubahan rasa sakit yang berpindah secara rinci kepada orang tua.
Risiko Komplikasi Tinggi pada Usia Muda
Secara statistik, kasus usus buntu paling dominan menyerang kelompok remaja. Angka kejadian pada bayi dan balita terbilang sangat langka, yakni di bawah 5 persen dari total kasus.
Kemajuan teknologi bedah saat ini berhasil menekan angka kematian akibat usus buntu hingga di bawah 1 persen. Namun, ancaman terbesar justru terletak pada komplikasi jangka panjang yang bisa mengganggu fungsi organ tubuh anak.
"Yang penting bukan angka kematian saja, tapi apakah anak itu mengalami komplikasi atau tidak ke depannya. Misalnya, ususnya sampai harus dipotong. Itu kan tidak harus sampai meninggal, tapi kasihan anaknya kalau sampai terlambat ditangani," ucap dr Himawan pada Selasa (1/9/2026).
Risiko peradangan berat tergolong semakin tinggi apabila usia pasien semakin muda. Anak-anak di bawah umur balita lebih sering dirujuk ke fasilitas kesehatan saat sudah mengalami komplikasi serius.
"Uniknya, usus buntu pada bayi atau anak yang usianya lebih kecil ini lebih sering datang dengan komplikasi. Komplikasi terberatnya adalah usus buntu bocor (perforasi), isi (usus)-nya keluar ke rongga perut dan menyebabkan infeksi luas," ujarnya.
"Kejadian komplikasi bocor ini lebih sering dibandingkan anak-anak yang usianya lebih tua," lanjutnya.
Para orang tua diimbau tidak menunda untuk membawa anak ke fasilitas medis jika menemukan keluhan sakit perut hebat. Diagnosis mandiri tanpa bantuan dokter berpotensi menyebabkan keterlambatan penanganan yang membahayakan keselamatan balita.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow