Negara Afrika Perluas Penggunaan Yuan China untuk Transaksi Perdagangan

Smallest Font
Largest Font

Sejumlah negara di Afrika kini mulai memperluas penggunaan mata uang yuan China untuk perdagangan internasional guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Langkah strategic tersebut dijalankan melalui perluasan akses lembaga keuangan Afrika ke sistem pembayaran lintas batas Cross-Border Interbank Payment System milik China.

Perkembangan terbaru datang dari Bank Sentral Libya yang bersiap menghubungkan bank-bank domestiknya ke jaringan jaringan pembayaran tersebut. Kesepakatan dicapai usai Pertemuan Gubernur Bank Sentral Libya Naji Issa dengan Gubernur Bank Sentral China Pan Gongsheng di Beijing. Selain itu, Libya berencana menerbitkan obligasi panda berdenominasi yuan untuk membiayai rekonstruksi pascakonflik.

Integrasi pembayaran langsung ini dinilai memberikan efisiensi tinggi pada aktivitas perdagangan kawasan. Bank Afrika seperti African Export-Import Bank dan Standard Bank dari Afrika Selatan telah terhubung lebih awal ke sistem tersebut, disusul Banco de Fomento Angola yang sedang bersiap bergabung.

Peningkatan peran mata uang asal Asia ini juga tercermin dari kebijakan Zambia yang mulai memungut pajak serta royalti dari perusahaan tambang China dalam mata uang yuan sejak Januari. Sementara itu, Kenya telah mengonversi utang proyek kereta apinya ke yuan, diikuti pembahasan serupa oleh Ethiopia dan Mozambik.

Langkah dedolarisasi regional tersebut berjalan seiring menguatnya volume transaksi ekonomi bilateral. Perdagangan antara China dan negara-negara Afrika mencatatkan rekor sebesar 203,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.627 triliun pada paruh pertama tahun ini.

"Hingga setidaknya 2028, volume lalu lintas diperkirakan akan terus berfluktuasi seiring mereda dan meningkatnya ketegangan. Namun, secara rata-rata tetap akan berada jauh di bawah tingkat sebelum konflik," kata Direktur Riset Makro Global Oxford Economics, Ben May.

Pakar hubungan China-Afrika dari AustChina Institute, Lauren Johnston, menyatakan bahwa penggunaan mata uang yuan memperlancar arus transaksi komersial antarnegara. Sementara itu, praktisi hukum asal Beijing, Kai Xue, menilai infrastruktur pembayaran baru ini memberikan alternatif bagi negara-negara Afrika dalam jaringan perdagangan Global South, meski belum akan menggantikan dominasi dolar AS dalam waktu dekat.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed