Pasokan Minyak Dunia Anjlok 10 Juta Barel Imbas Konflik AS dan Iran
Gangguan pasokan minyak global mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah setelah blokade Selat Hormuz memangkas aliran energi hingga 10,1 juta barel per hari pada Maret 2026. Penutupan jalur pelayaran strategis akibat perang Amerika Serikat dan Iran ini memicu lonjakan harga bahan bakar serta ancaman krisis energi dunia.
Data International Energy Agency yang dikutip World Bank Commodity Markets Outlook mencatat angka kehilangan pasokan tersebut melampaui dampak Revolusi Iran 1978–1979 sebesar 5,6 juta barel per hari. Selat Hormuz memegang peranan vital karena menjadi pintu keluar bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak internasional dari negara-negara Teluk Persia.
Akibat penghentian lalu lintas tanker, harga minyak mentah Brent naik menjadi US$87,16 per barel pada Jumat (14/8/2026), sementara West Texas Intermediate menguat ke posisi US$81,29 per barel. Di AS, harga bensin melonjak hingga US$4,08 per galon, naik 29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penutupan jalur laut ini terjadi setelah Iran membatasi pergerakan kapal yang melintas. Data Kpler memperlihatkan hanya dua kapal yang tercatat melintasi Selat Hormuz pada Jumat (14/8/2026), turun drastis dari rata-rata normal yang mencapai lebih dari 130 kapal per hari.
Presiden AS Donald Trump meminta warga AS bersiap menghadapi tingginya harga bahan bakar selama pertempuran berlanjut. Menurutnya, kenaikan biaya energi tersebut merupakan konsekuensi yang sepadan untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
"Apa yang kami lakukan adalah jasa besar bagi dunia, bukan hanya untuk diri kami sendiri ... dan kami benar-benar melakukan pekerjaan yang sangat baik," kata Trump.
Trump juga menambahkan bahwa pengerahan armada militer di kawasan tersebut masih memegang peranan kunci dalam mengamankan posisi AS.
"jauh dari cukup lama," kata Trump.
Pemerintah AS turut menegaskan akan mempertahankan blokade laut terhadap Iran serta memperketat sanksi finansial. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan kebijakan baru akan segera diterapkan untuk mengisolasi perekonomian Iran.
"Kita tunggu pengumuman lebih lanjut pekan depan karena kami akan menerapkan langkah-langkah seperti yang belum pernah terlihat dalam sejarah isolasi ekonomi terhadap suatu negara," kata Bessent.
Di pihak lain, Pemerintah Iran menegaskan tidak akan menyerahkan kendali atas Selat Hormuz. Pihak Teheran menyatakan bahwa penutupan jalur laut tersebut merupakan respons langsung atas tindakan militer AS dan sekutunya.
"Selat ini hanya akan dibuka dan ditutup atas perintah Iran, dan selama Anda tidak menerima kenyataan kekalahan serta berhenti memanjakan diri dengan khayalan, Iran akan terus memberlakukan blokade," kata Gharibabadi.
Gharibabadi juga menekankan bahwa kehadiran militer maupun retorika politik Washington tidak akan mengubah pendirian Teheran di jalur pelayaran strategis tersebut.
"Selat Hormuz tidak dapat dikuasai hanya dengan sebuah unggahan di X, menugaskan kapal induk, ataupun menyampaikan pidato kampanye," kata Gharibabadi.
Hingga pertengahan Agustus 2026, perundingan damai antara kedua negara masih mengalami kebuntuan. Jalur diplomatik yang dimediasi oleh Qatar dan Pakistan belum membuahkan kesepakatan untuk menghentikan konflik militer di Selat Hormuz.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow