Pemerintah Perkuat Ketahanan Nasional dan Matangkan Proyek Tanggul Laut
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional sekaligus mematangkan rencana proyek Tanggul Laut Raksasa (Giant Sea Wall) di Jakarta pada Sabtu (23/5/2026). Langkah strategis ini diambil pemerintah untuk melindungi Indonesia dari lonjakan harga global akibat konflik geopolitik Timur Tengah dan ancaman lingkungan di pesisir Jawa.
Krisis geopolitik global dinilai berpotensi mengganggu jalur distribusi energi di Selat Hormuz, yang memicu efek domino terhadap kenaikan biaya pangan dan komoditas pokok. Selain faktor eksternal, pemerintah juga mengantisipasi risiko iklim seperti El Nino yang dapat mengganggu produksi pertanian nasional.
"If the conflict and war in the Middle East persist, and the Strait of Hormuz cannot be normalized anytime soon, global energy and food prices could skyrocket to suffocating levels," ujar Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Ia menambahkan bahwa kemandirian nasional di sektor energi dan pangan sangat krusial untuk melindungi stabilitas ekonomi dari guncangan luar. Sektor infrastruktur akan diintegrasikan demi meningkatkan efisiensi distribusi logistik dan menekan biaya di seluruh wilayah Indonesia.
"We must also mitigate climate risks like El Niño to avoid the impact of the prolonged dry season that can disrupt agricultural production and cause crop failure," kata Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Terkait ancaman lingkungan, pemerintah terus mematangkan proyek Giant Sea Wall sepanjang 500 kilometer dari Banten hingga Gresik yang ditargetkan lebih matang pada tahun 2027. Proyek raksasa senilai 80 miliar dolar AS ini melibatkan lima provinsi, 20 kabupaten, dan lima kota di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa.
"This is not a project involving just one or two parties. There are five provinces, 20 regencies, and five cities involved, especially along the Pantura area," kata Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Kawasan Pantura saat ini menghadapi penurunan tanah berkisar 5 hingga 20 sentimeter per tahun yang memperparah banjir rob dan mengancam 50 juta penduduk. Pemerintah berencana membangun tanggul pantai dan tanggul laut lepas pantai yang dikombinasikan dengan penanaman mangrove.
"We are continuing to pursue it, and hopefully by next year (2027) the plan will be more mature," lanjut Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Tahap awal konstruksi mega proyek ini akan difokuskan di Teluk Jakarta dengan estimasi biaya mencapai 8 hingga 10 miliar dolar AS. Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut, pemerintah membuka peluang keterlibatan bagi investor dan pelaku usaha swasta baik dari dalam maupun luar negeri.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow