Pemukim Israel Serbu Al Aqsa di Tengah Eskalasi Kawasan

Smallest Font
Largest Font

Sebanyak 584 pemukim Israel menerobos masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur pada Kamis (13/8/2026) pagi di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian Israel. Aksi penerobosan massal melalui Gerbang Maroko ini memicu ketegangan baru di kawasan suci tersebut.

Pejabat Departemen Wakaf Islam di Yerusalem menyatakan bahwa para pemukim memasuki kawasan situs suci umat Islam itu dalam beberapa gelombang. Kelompok tambahan diperkirakan menyusul masuk usai waktu salat Zuhur.

Sejumlah saksi mata melaporkan para pemukim menggelar ritual Talmud, berdoa, serta menari di dalam kompleks. Tindakan ini dinilai melanggar status quo yang melarang non-Muslim beribadah di sana.

"Setidaknya 584 pemukim menyerbu kompleks masjid tersebut pada pagi hari melalui Gerbang Maroko di sisi Tembok Ratapan dengan pengawalan kepolisian," kata seorang pejabat Departemen Wakaf Islam di Yerusalem yang meminta namanya tidak disebutkan.

Penyerbuan tersebut bertepatan dengan hari pertama bulan baru dalam kalender Ibrani. Pada hari sebelumnya, Rabu (12/8/2026), puluhan pemukim Israel juga melakukan aksi serupa dengan pengawalan ketat.

Di saat bersamaan, pasukan Israel memberlakukan pembatasan ketat di gerbang kompleks Al-Aqsa. Kebijakan ini menyulitkan akses warga dan jamaah Palestina yang hendak masuk ke area masjid.

Eskalasi juga meluas ke wilayah Tepi Barat. Pada hari yang sama, pasukan Israel menggelar operasi di pasar kamp pengungsi Balata, Nablus, yang menyebabkan sejumlah warga Palestina mengalami gangguan pernapasan akibat tembakan gas beracun.

Rangkaian aksi provokatif ini memicu reaksi keras internasional. Para menteri luar negeri dari 10 negara anggota Liga Arab bersama Indonesia, Pakistan, Turkiye, dan Malaysia menggelar pertemuan darurat di Amman, Yordania, guna menyikapi pelanggaran Israel.

"Kami memperingatkan bahwa mengutak-atik status quo ... dapat memicu konflik agama yang gaungnya akan melampaui Palestina dan Yordania hingga ke seluruh dunia Islam," kata Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi.

Kementerian Luar Negeri Israel membantah tuduhan pelanggaran tersebut. Pihak Israel mengklaim kawasan suci di Yerusalem tetap terbuka bagi seluruh pemeluk agama.

"Tak pernah lebih terbuka dan mudah diakses oleh umat dari semua agama," kata Kementerian Luar Negeri Israel merespons pernyataan bersama negara-negara Muslim.

Di balik ketegangan yang berulang, pengamat menilai dominasi kelompok sayap kanan di pemerintahan Israel menjadi pendorong utama pengikisan status quo. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dinilai memberi ruang bagi kelompok ekstremis.

"Seiring waktu, gerakan Temple Mount, yang didukung lebih dari 100 rabi yang terkait dengan gerakan pemukim di Tepi Barat, menjadi semakin terlihat, semakin lantang, dan semakin provokatif," kata pengacara Terrestrial Jerusalem Daniel Seidemann.

Peneliti Middle East Council on Global Affairs menegaskan bahwa agenda perubahan status quo situs suci telah berlangsung lama dan kini mendapat sokongan politik yang kuat.

"Krisis ini telah dipersiapkan selama puluhan tahun. Upaya kelompok ekstremis agama untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa sudah ada setidaknya sejak 1980-an, ketika sejumlah rencana untuk melakukan hal itu terbongkar. Namun kelompok-kelompok dan ideologi tersebut kini memperoleh representasi yang lebih besar di Knesset, parlemen Israel," kata peneliti Middle East Council on Global Affairs Omar Rahman.

Laporan organisasi Ir Amim menemukan bahwa para politikus dari partai berkuasa kerap melanggar aturan tanpa menghadapi sanksi tegas dari otoritas hukum.

"Dalam praktiknya, Netanyahu membiarkan dan menormalisasi pelanggaran serius terhadap status quo," tulis laporan Ir Amim Association.

Netanyahu berulang kali membantah tuduhan tersebut. Ia mengklaim pemerintahannya tidak mengubah aturan di Al-Aqsa.

"Pemerintahnya tetap berkomitmen pada status quo dan tidak ada yang berubah," kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Para ahli memperingatkan bahwa setiap perubahan paksa pada situs Warisan Dunia UNESCO ini berisiko memicu gelombang perlawanan besar di seluruh dunia Islam.

"Meskipun nasib Yerusalem sebagai sebuah kota mungkin menjadi perhatian utama Palestina, nasib situs-situs suci Islam di Yerusalem merupakan kepedulian yang terus melekat bagi umat Islam di seluruh dunia. Bukan hanya dunia Arab, tetapi juga negara-negara Muslim terbesar seperti Indonesia, Pakistan, dan Bangladesh. Karena itu, setiap upaya Israel mengubah status quo akan menghadapi reaksi global," kata penasihat khusus Crisis Group Joost Hiltermann.

Hiltermann menambahkan bahwa eskalasi di lapangan berpotensi memicu gelombang protes massa yang meluas di berbagai negara Muslim.

"Pemerintah negara-negara Arab akan enggan terlibat dalam konfrontasi apa pun dengan Israel, tetapi rakyat mereka akan murka," kata Joost Hiltermann.

Hingga kini, Kepolisian Israel tetap mengizinkan warga Yahudi memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa setiap hari Minggu hingga Kamis, sementara akses bagi jemaah Palestina terus mendapat pembatasan ketat.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed