Pertamina Targetkan Seluruh Bensin Berbasis Etanol Dua Tahun Lagi

Smallest Font
Largest Font

PT Pertamina Patra Niaga menargetkan seluruh produk bahan bakar minyak jenis bensin akan berbasis etanol dalam kurun dua tahun mendatang. Kebijakan penggunaan bahan bakar nabati tersebut saat ini tengah dimatangkan oleh pemerintah.

"Rencananya juga saat ini pemerintah sedang menggodok kebijakannya dan insyaallah mungkin dalam 1-2 tahun ke depan semua produk gasoline akan berbasis etanol," ujar Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto, dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2026).

Pertamina telah membagikan produk Pertamina Green setara RON 95 berbasis etanol di kawasan Pulau Jawa selama tiga tahun terakhir. Suplai etanol tersebut diproduksi oleh PT Energi Agro Nusantara di Mojokerto, Jawa Timur.

"Karena memang untuk produksi etanolnya masih disuplai melalui Enero (PT Energi Agro Nusantara) perusahaan di Mojokerto yang memproduksi etanol," tambah Eko.

Perseroan tengah membenahi penanganan sarana blending dan tangki penampungan di berbagai terminal BBM. Langkah ini dilakukan guna mendukung perluasan kapasitas produksi bahan bakar berbasis nabati.

"Kami juga mengajukan ke kementerian untuk bisa didukung terkait bebas cukai dan saat ini sedang diproses," kata Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto di sela temu media nasional di Terminal BBM Rewulu Yogyakarta, Jumat.

Pihaknya memproyeksikan penambahan terminal BBM ramah lingkungan di Jawa bagian barat serta Jawa bagian tengah apabila pembebasan cukai etanol untuk transisi energi disetujui.

"Jadi prioritasnya sementara ini masih di Jawa karena basis produksi etanol juga ada di Mojokerto, walaupun ada rencana pengembangan tiga sampai empat pabrik etanol baru yang bisa mendukung ekosistem etanol," katanya.

Saat ini mandatori bioetanol dipatok sebesar 5 persen pada 2026 dan direncanakan meningkat secara bertahap hingga 20 persen.

"Ada tahapan-tahapan yang harus kami siapkan termasuk persiapan ekosistem pendukung mulai pelayanan, infrastruktur karena butuh waktu untuk melakukan perubahan," katanya menambahkan.

Sebelumnya pembebasan tarif cukai etanol sebesar Rp20.000 per liter baru berlaku di Integrated Terminal Surabaya. Sementara itu, Kementerian ESDM dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI pada Selasa (8/9) memastikan etanol untuk bahan bakar nabati tidak dikenakan cukai.

"Kalau fuel ini karena untuk kepentingan apa namanya transisi energi dan juga bagian dari shifting energi, kita kemarin juga mengajukan ke Kementerian untuk bisa didukung terkait dengan bebas cukai dan saat ini sedang diproses," jelas Eko.

Di sisi lain, Kementerian ESDM menetapkan Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati jenis bioetanol sebesar Rp11.814 per liter untuk September 2026. Penetapan ini tercantum dalam surat Ditjen EBTKE Nomor T-2679/EK.05/DJE.B/2026 yang ditandatangani Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi pada 29 Agustus 2026.

"Walaupun ada rencana pengembangan 3 sampai 4 pabrik etanol baru yang nanti untuk bisa bagian men-support ekosistem dari etanol. Nah mengenai roadmap-nya sendiri, saat ini memang kita baru di E5, apakah nanti ini sedang digodok dan disiapkan kebijakannya oleh Kementerian ESDM nanti berbasis E5, E10, kemudian sampai E20," beber Eko.

Perhitungan tarif tersebut berpatokan pada rata-rata harga tetes tebu KPB periode tiga bulan senilai Rp1.775 per kilogram serta rata-rata kurs tengah Bank Indonesia sebesar Rp17.970 per dolar AS.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed