Polisi Malaysia Penggerebekan Sindikat Penipuan di Forest City
Aparat kepolisian Malaysia membongkar dua markas operasi penipuan investasi kripto dan percintaan yang berlokasi di kompleks perumahan sepi Forest City, Johor, serta meringkus 335 orang terduga pelaku pada pertengahan Juli.
Penggerebekan yang dilansir dari Detikcom tersebut menyasar jaringan kejahatan internasional yang membidik korban di luar negeri. Para anggota sindikat tersebut diketahui menjalankan operasinya dengan memanfaatkan 32 titik lokasi di dalam kawasan megaproyek tersebut, mencakup 27 unit apartemen di lima menara dan lima unit bungalow.
Analis dari TRM Labs John Wojcik menilai kasus ini mengindikasikan perkembangan industri kejahatan siber yang semakin masif dan terorganisir.
"Kenyataannya adalah bahwa banyak dari organisasi-organisasi ini sekarang lebih menyerupai perusahaan multinasional daripada jaringan kejahatan terorganisir atau geng tradisional," ujar Wojcik.
Penyelidikan TRM Labs mencatat bahwa modus penipuan berbasis kripto kini beroperasi dengan struktur yang lebih profesional layaknya korporasi modern. Penilaian tersebut sejalan dengan kondisi kawasan yang minim penghuni sehingga memudahkan aktivitas ilegal berjalan tanpa terdeteksi.
Seorang penghuni yang juga berprofesi sebagai agen penjualan properti kawasan tersebut, Kevin (bukan nama asli), mengindikasikan aktivitas kejahatan tersebut masih berlangsung di dalam kompleks kondominium.
"Kami tahu apa yang sedang mereka (sindikat penipu) lakukan," kata Kevin.
Kevin menceritakan bahwa praktik kejahatan siber tersebut sudah menjadi fenomena yang marak di beberapa wilayah perkotaan negara tersebut.
"Ini sebenarnya masalah yang sangat umum di kota Johor dan Kuala Lumpur, tetapi terutama di Forest City. Forest City sangat istimewa," tambah Kevin.
Ia mengungkapkan reputasi kawasan sebagai 'kota hantu' menjadi alasan utama sindikat penipuan memilih lokasi itu untuk bersembunyi dari jangkauan publik.
"Ketika kami berbicara dengan klien atau pelanggan, perusahaan mengajari kami untuk mengatakan 'kami sudah memiliki 23.000 penduduk yang tinggal di daerah ini'," kata Kevin.
Pernyataan promosi tersebut berbanding terbalik dengan populasi nyata di lapangan yang diperkirakan kurang dari 5.000 orang.
"Mereka punya privasi sendiri. Tidak ada yang datang ke sini," ucap Kevin.
Megaproyek bernilai US$ 100 miliar atau sekitar Rp 1.788 triliun itu dibangun oleh pengembang asal China, Country Garden, sejak 2016 di atas pulau buatan seluas 3.400 hektare. Awalnya dirancang untuk menampung 700.000 jiwa, kini kawasan tersebut hanya terisi kurang dari satu persen populasi dari target awal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow