Restorasi Ekosistem Gambut Efektif Cegah Kebakaran dan Degradasi Lahan

Smallest Font
Largest Font

Kerusakan ekosistem akibat pengeringan lahan gambut memicu ancaman kebakaran hutan yang sulit dipadamkan saat musim kemarau tiba.

Kondisi alami gambut yang selalu tergenang air sebenarnya berfungsi sebagai penyerap air skala besar sekaligus penahan potensi terbakar.

Ketika drainase seperti kanal dibangun, material organik yang mengering berubah menjadi akumulasi bahan bakar di hamparan luas, dilansir dari Detikcom.

Pengeringan ini turut memicu fenomena subsurface smoldering, yaitu perambatan api di bawah permukaan tanah yang sukar terdeteksi.

"Jika wilayah gambut masih berada dalam kondisi alaminya dan selalu tergenang air, hal itu tidak akan menjadi masalah. Namun, ketika airnya dikeluarkan, bahan organik yang mengering tersebut berubah menjadi akumulasi bahan bakar di hamparan yang sangat luas," ujar pakar Ekologi dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, Dr. Elham Sumarga, S Hut, M Si, dikutip dari ITB.

Selain meningkatkan durasi serta sebaran kebakaran, pengeringan lahan gambut memicu penurunan permukaan tanah atau subsidence.

Degradasi tersebut menghilangkan daya serap tanah terhadap air, sehingga area sekitar rentan mengalami genangan hingga banjir permanen.

Pemerintah diimbau memperhitungkan dampak pengelolaan lahan melalui pendekatan pemodelan hidrologis dan spasial sebelum merumuskan kebijakan.

"Di sinilah fungsi utama pemodelan. Kita dapat menginvestigasi berbagai skenario untuk mengambil keputusan yang bersifat antisipatif dan preventif agar kebakaran yang lebih hebat pada masa depan dapat dicegah," kata Dr Elham.

Upaya pemulihan dapat ditempuh melalui restorasi ekosistem, salah satunya metode rewetting atau pembasahan kembali lahan gambut yang mengering.

Pembangunan sekat kanal menjadi sarana efektif untuk menjaga tingkat kelembapan serta ketersediaan air di area gambut.

Penerapan konsep paludikultur juga disarankan agar aktivitas budidaya tidak perlu mengeringkan lahan gambut.

Pemilihan komoditas ramah gambut seperti tanaman purun, sagu, dan jelutung memberikan nilai ekonomi tanpa merusak ekosistem.

Dampak kebakaran gambut sangat merugikan kesehatan masyarakat akibat sebaran kabut asap yang membawa partikulat halus PM2.5.

Paparan PM2.5 memicu gangguan saluran pernapasan, menurunkan jarak pandang, serta menghambat mobilitas warga sehari-hari.

Secara global, pelepasan emisi karbon dari kebakaran lahan berskala besar mempercepat laju perubahan iklim dan pemanasan global.

Kebakaran hutan turut menghancurkan ruang hidup satwa liar, seperti kawanan orang utan di Kalimantan yang terdesak dari habitatnya.

"Orang utan di Kalimantan banyak yang terdesak dan terjebak akibat kebakaran. Bahkan, terdapat satwa liar yang tidak mampu menyelamatkan diri dari kebakaran yang hebat," tuturnya.

Penanganan bencana ini membutuhkan langkah sinergis antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, lembaga terkait, dan masyarakat.

"Semua pihak harus bergerak bersama secara sinergis. Kebakaran hutan adalah masalah yang tidak bisa dilokalisasi, sehingga penanganannya membutuhkan kesadaran bersama, perbaikan regulasi, serta ketegasan penegakan hukum demi menjaga keberlanjutan ekosistem," pungkasnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed