Rupiah Anjlok ke Rp17.862 per Dolar AS Tertekan Harga Minyak World
Tekanan geopolitik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak mentah dunia kembali menggerus nilai tukar rupiah hingga melemah 0,36 persen atau 64 poin ke level Rp17.862 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026.
Pelemahan ini terjadi setelah sebelumnya mata uang Garuda sempat menguat 0,16 persen ke posisi Rp17.798 per dolar AS pada Senin (17/8/2026), sementara kurs Jisdor Bank Indonesia Jumat (14/8/2026) tercatat Rp17.836 per dolar AS.
Eskalasi ketegangan global meningkat drastis menyusul berakhirnya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi.
"Trump bahkan mengancam akan membom negara Oman jika negara itu menghalangi AS. Tidak jelas apa yang mendasari Trump melontarkan ancaman itu," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi.
Kondisi pasar kian memanas setelah AS menolak perpanjangan moratorium perang dan pihak Iran enggan melanjutkan dialog diplomasi. Di saat bersamaan, militer Houthi Yaman mengklaim serangan rudal ke armada Arab Saudi, meski Oman mulai memediasi kelancaran Selat Hormuz.
"Pelaku pasar menantikan risalah rapat the Fed bulan Juli kemarin untuk mendapatkan kejelasan arah kebijakan the Fed. Risalah itu dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu setempat," ujar Ibrahim.
Ibrahim juga menggarisbawahi dampak kenaikan harga komoditas terhadap pembengkakan nilai impor BBM nasional yang menguras cadangan dolar.
"Lonjakan permintaan dolar AS untuk membeli minyak mentah di pasar global membuat dolar menguat dan menekan nilai tukar rupiah," ucap Ibrahim.
Di tengah tekanan mata uang, Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia triwulan II 2026 tumbuh 4,4 persen secara tahunan menjadi sebesar 453,4 miliar dolar AS.
"BI diprakirakan akan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Setelah menaikkan suku bunga secara agresif dengan total 75 basis poin sepanjang April-Juni 2026," ujar Ibrahim.
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026 diproyeksikan bakal menetapkan arah kebijakan moneter serta suku bunga acuan domestik selanjutnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow